Cari Blog Ini

Senin, 21 Mei 2018

Jurnalistik Online 12: Pedoman Media Siber


Kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers.

Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk itu Dewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusun Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut:

Ruang Lingkup

Media Siber adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana Internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers.

Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)

Segala isi yang dibuat dan atau dipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain.

Verifikasi dan keberimbangan berita

Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.Ketentuan dalam butir (a) di atas dikecualikan, dengan syarat:Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak;

Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten;Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau tidak dapat diwawancarai;Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya.

Penjelasan dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan menggunakan huruf miring.Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib meneruskan upaya verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran (update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.

Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)

Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan Pengguna yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.

Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan dan melakukan proses log-in terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk Isi Buatan Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.

Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.

Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi Buatan Pengguna yang bertentangan dengan butir (c). Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir (c).

Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yang dengan mudah dapat diakses pengguna.Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkin secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima.Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b), (c), dan (f) tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggar ketentuan pada butir (c).Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan bila tidak mengambil tindakan koreksi setelah batas waktu sebagaimana tersebut pada butir (f).

Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab

Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.

Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media siber yang berada di bawah otoritas teknisnya;Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh media siber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu;Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan koreksi atas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang tidak dikoreksinya itu.

Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).

Pencabutan Berita

Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers.Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut.Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan kepada publik.

Iklan

Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib mencantumkan keterangan “advertorial”, “iklan”, “ads”, “sponsored”, atau kata lain yang menjelaskan bahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.

Hak Cipta

Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pencantuman Pedoman

Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianya secara terang dan jelas.

Sengketa

Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.

Jakarta, 3 Februari 2012

(Pedoman ini ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di Jakarta, 3 Februari 2012)

Rabu, 16 Mei 2018

Produksi Berita TV 6: Jenis & Format Penulisan Berita TV


Berita di media televisi dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, diantaranya:

1. Hard news
Berita peristiwa yang harus secara langsung/ cepat ditayangkan karena memiliki nilai penting dan baru. Pendekatan berbasis fakta (isi dan gambar). Contoh: Serangan teroris, letusan gunung dan banjir bandang.

2. Soft news
Berita peristiwa yang tidak perlu disampaikan secara cepat karena tidak memiliki aspek kesegeraan. Berita ringan mengutamakan sisi-sisi menarik, memberi warna pada suatu peristiwa. Contoh: Betapa kesedihan dan suasana haru saat pemakaman korban aksi terorisme, dan kisah-kisah yang melingkupinya.

3. Features
Berita yang mengisahkan tentang pribadi,obyek dengan menggunakan pendekatan kisah. Contoh: Kehidupan pengemis yang memiliki uang jutaan rupiah.

Sementara itu, untuk menentukan format mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor itu antara lain: Ketersediaan gambar. Jika gambar yang dimiliki sangat terbatas, reporter sulit menulis naskah berita yang panjang. Maka berita dibuat dalam format lebih singkat dan padat, atau dibuat dalam format tanpa gambar sama sekali.

Momen terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan. Perkembangan terkini dari suatu peristiwa baru sampai ke producer, ketika siaran berita sedang berlangsung. Sedangkan perkembangan itu terlalu penting untuk diabaikan. Jika ditunda terlalu lama, perkembangan terbaru pun menjadi basi, atau stasiun TV lain (kompetitor) akan menayangkannya terlebih dahulu.

Format-format berita TV:

READER (RDR)
Format berita TV yang paling sederhana, berupa LEAD IN yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar.
Bisa juga, karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di tengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan berita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimalnya 30 detik.

VOICE OVER (VO)/ VIDEO TAPE (VT)
VOICE (VO) / VIDEO TAPE (VT) adalah format berita TV yang LEAD IN dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi.
Natsound (natural sound, suara lingkungan) yang terekam dalam gambar bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, tentu Reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).

VOICE OVER GRAFIK (VO-GRF)
VO-GRAFIK adalah format berita TV yang LEAD IN dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

SOUND ON TAPE (SOT)
SOUND ON TAPE (SOT) adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite).
Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk SOT sebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja. Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.

VOICE OVER -- SOUND ON TAPE (VO-SOT)
VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan VOICE OVER (VO) dan SOUND ON TAPE (SOT). LEAD IN dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.

PACKAGE (PKG)
PACKAGE adalah format berita TV yang hanya LEAD IN-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi.
Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket berita tersebut (stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2 menit 30 detik.

LIVE ON CAM
LIVE ON CAM adalah format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian ia memanggil reporter, di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan.
Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya sudah berlangsung, perlu ada bukti-bukti yang ditunjukkan langsung kepada pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.

LIVE ON TAPE (LOT)
LIVE ON TAPE adalah format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.
Format berita ini dipilih untuk menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa. Namun, siaran tak bisa dilakukan secara langsung karena pertimbangan teknis dan biaya. Meski siarannya ditunda, aktualitas tetap harus terjaga. Durasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan, namun biasanya lebih singkat dari format Live on Cam.

LIVE BY PHONE
LIVE BY PHONE adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

PHONE RECORD
PHONE RECORD adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.

Visual News
Visual News adalah format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana Tsunami di Aceh.

Vox Pop
Vox pop (dari bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop bukanlah format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Isinya biasanya adalah komentar atau opini dari masyarakat tentang suatu isyu tertentu. Misalnya, apakah mereka setuju jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Jumlah narasumber yang diwawancarai sekitar 4-5 orang, dan diusahakan mewakili berbagai kalangan (tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, dan sebagainya). Durasi vox pop sebaiknya singkat saja dan langsung menjawab pertanyaan yang diajukan.

Struktur Penulisan Berita TV:
Ada perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.

Awal (pembuka)Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak berita yang akan disampaikan.

Pertengahan
Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.

Akhir (penutup)Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan terjadi.

Aturan-aturan Dasar:Ada aturan-aturan dasar tertentu dalam penulisan berita untuk media televisi. Aturan ini bertujuan untuk membuat isi berita tersebut lebih mudah dipahami oleh pemirsa. Aturan ini juga akan membantu dan memudahkan presenter atau reporter di lapangan untuk membacakan berita tanpa kesalahan.

Lead yang menjual:
Setiap berita harus dimulai dengan kalimat lead yang kuat. Lead yang paling efektif biasanya mengacu ke beberapa aspek dari berita, yang dianggap penting atau menarik bagi pemirsa. Aspek ini kita namai “hook.” Kenali aspek dalam berita itu yang akan memancing perhatian pemirsa dan gunakanlah pada kalimat lead. Lead semacam itu akan memelihara tingkat perhatian dari pemirsa TV.

Angka. Dalam penulisan angka, sebutkan jelas angka dari “satu” sampai “sebelas”. Lebih dari “sebelas”, ditulis dalam bentuk angka: 12, 14, 25, dan seterusnya.
Untuk uang senilai Rp 145.325,50 tulis saja “seratus empat puluh lima ribu rupiah” atau “145 ribu rupiah.”
Untuk menyebut tahun, sebut apa adanya, karena presenter akan dengan cepat memahami angka tahun. Misalnya: 1998, 2007, dan seterusnya.

Singkatan dan akronim. Tuliskan dengan jelas singkatan sebagaimana Anda ingin mendengarnya on air. Misalnya: ITB ditulis “I-T-B.”
Jika suatu akronim sudah cukup dikenal, biarkan seperti apa adanya di naskah. Misalnya: NATO, OPEC, BAKIN, dan sebagainya.
Namun, jika si reporter ragu pemirsa akan memahami singkatan atau akronim itu, gunakan saja kepanjangan lengkapnya. Hal itu lebih aman dan menghindarkan presenter dari kemungkinan membuat kekeliruan.

Punctuation. Jangan gunakan punctuation dalam penulisan berita. Juga colon dan semicolon. Koma juga jarang digunakan dalam naskah untuk menandai jeda atau perubahan pemikiran. Presenter lebih suka menggunakan tiga titik (“…”) untuk menandai jeda, karena lebih mudah dibaca di alat TelePrompTer.

Nama. Selalu gunakan nama dan gelar secara sederhana dan bertutur. Jika Anda harus mengidentifikasi seseorang dengan gelarnya, tuliskan gelar itu di depan nama mereka, seperti ketika kita memberi atribusi. Kita bisa menambahkan informasi identifikasi lain, sesudah menyebut nama.

Spelling. Salah menyebut kata atau salah mengeja bisa terjadi pada presenter. Itulah sebabnya, sebelum tampil di layar TV, mereka memang sebaiknya membaca dulu naskah beritanya. Namun, sering hal ini tak dilakukan karena berbagai sebab. Entah karena sekadar malas, atau berita memang ditulis dadakan. Untuk menghindari kekeliruan, reporter yang menulis berita perlu memberitahu presenter, tentang cara mengucapkan nama atau istilah tertentu yang tidak biasa.

Grammar/Tata bahasa. Tata bahasa yang buruk bisa berdampak jelek pada penampilan presenter. Maka, periksalah sekali lagi naskah berita, untuk menghindari tata bahasa yang buruk, sebelum naskah itu diserahkan ke presenter.

Rumus 5 C untuk Penulisan Berita Media TV:
Conversational:
Ketika menulis naskah berita untuk media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat, televisi adalah media audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat (gambar/visual) dan mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita seperti membaca koran.
Kelemahan media televisi adalah berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali. Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang. Kecuali mungkin untuk berita yang dianggap sangat penting, sehingga dari waktu ke waktu selalu diulang dan perkembangannya di-update oleh stasiun TV bersangkutan.

Keterbatasan tersebut berlaku untuk media TV konvensional. Namun, saat ini sudah muncul jenis media TV yang tidak konvensional. Sekarang di sejumlah negara maju sudah mulai diperkenalkan IPTV (internet protocol television), yang bersifat interaktif. Pemirsa yang berminat bisa mengulang bagian dari tayangan TV yang ia inginkan, tentunya dengan membayar biaya tertentu.

Namun, IPTV mensyaratkan adanya infrastruktur telekomunikasi pita lebar yang canggih dan mahal, yang saat ini belum tersedia di Indonesia. Dalam dua atau tiga tahun ke depan (katakanlah sampai tahun 2010), tampaknya infrastruktur semacam ini juga belum siap untuk mewujudkan kehadiran IPTV di Indonesia. Jadi, dalam pembahasan teknik penulisan naskah berita, kita mengasumsikan, media televisi di Indonesia sampai tahun 2010 masih akan bersifat konvensional.

Untuk media televisi yang konvensional, sebuah tayangan berita tidak bisa disimak dan dibaca berulang-ulang seperti kita membaca koran. Pemirsa hanya punya satu kesempatan untuk menangkap isi berita Anda. Oleh karena itu, berita di TV dibuat dengan gaya bahasa bertutur, seperti percakapan sehari-hari, karena ini adalah gaya bahasa yang paling akrab dan biasa didengar orang. Tulislah naskah berita seperti gaya orang berbicara.
Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, kita amat jarang menggunakan kalimat yang berpanjang-panjang, atau memiliki anak-anak kalimat. Namun, meskipun berita di TV menggunakan gaya bahasa bertutur, tata bahasanya tetap harus benar.

Clear:
Batasi kalimat untuk satu gagasan saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk menangkap dan memahami isi berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang, yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan kalimat yang rumit.

Atribusi untuk narasumber disampaikan lebih dulu sebelum pernyataannya, dan bukan sebaliknya. Hal ini untuk menghindarkan kebingungan di pihak pemirsa, dalam membedakan mana narasi dari si reporter dan mana opini dari si narasumber. Ini bertolak belakang dengan praktik yang biasa dilakukan di media cetak.
Jangan menggunakan terlalu banyak angka. Penyebutan angka-angka sulit ditangkap oleh pemirsa ketika mendengarkan berita. Buatlah angka itu mudah dimengerti. Jangan menempatkan angka di awal kalimat, karena bisa membingungkan.

Concise:Gunakan kalimat-kalimat yang bersifat pernyataan (deklaratif).
Tulislah kalimat-kalimat yang pendek. Menurut hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih kuat, ketimbang kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib tentang panjang kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap kalimat yang Anda tulis tidak lebih dari 20 kata.

Compelling:Tulislah dalam bentuk kalimat aktif. Para penulis berita menggunakan kalimat aktif karena lebih kuat dan lebih menarik. Selain itu, kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.

Cliché free: Kalimat atau pernyataan klise adalah pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di media. Pernyataan klise mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus diakui, banyak reporter merasa sulit menghindari pernyataan klise seperti ini.
Contoh kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu masih dalam penyelidikan.” Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak memberi informasi tambahan apapun kepada pemirsa.
Maka, kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang lebih informatif. Misalnya: “Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui penyebab kecelakaan. Polisi mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat diungkapkan hari Jumat besok. Reportase Trans TV akan melaporkan perkembangan ini besok untuk Anda.”Referensi:

Daftar Pustaka:
1. Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
2. Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.
3. Ishadi SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
4. Ishadi S. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
5. Metro TV, Claudius V Boekan, 2010, Panduan Kebijakan dan Standar Berita.
5. Smith, Dow. 2000. Power Producer: A Practical guide to TV news Producing – 2nd edition. Washington: Radio-Television News Directors Association.
6. Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi. Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo.

Minggu, 29 April 2018

Jurnalistik Online 8: Mengevaluasi Laporan Berita



Perencanaan Pemberitaan Faktor yang Penting dalam Struktur Redaksi

Perkembangan hasil liputan pasca-rapat redaksi sangat perlu untuk terus dipantau perkembangannya. Ini untuk mengantisipasi, pencapaian hasil rapat redaksi yang telah mengalokasikan beberapa tema untuk dijadikan sumber pemberitaan yang akan menjadi output dalam bentuk-bentuk laporan pemberitaan yang telah disepakati sebelumnya oleh rapat redaksi.

Beberapa acuan dalam menentukan apakah proses peliputan berjalan dengan baik dan dalam kendali redaksi, dapat dinilai dari pencapaian beberapa faktor di bawa ini, antara lain:

Akurasi: kebenaran fakta; sebuah berita akurat jika setiap fakta di dalamnya dapat diverifikasi

sudut: sudut pandang dari mana sepotong informasi digali dan ditulis

Pelaporan berimbang: pelaporan di mana semua sisi dari suatu masalah diwakili sama dan adil; wartawan seharusnya tidak menunjukkan kebaikan pada pihak manapun

Pelaporan bias: melaporkan di mana satu sisi disukai atas yang lain atau satu subjek diwakili secara tidak adil; contoh bias dalam laporan berita termasuk bahasa yang dimuat, fakta terbatas dan sumber, bunyi yang keluar dari konteks, dan rekaman video emosional

kredibel: informasi yang dapat dipercaya dan dipercaya; berita dapat dipercaya jika sumber dapat diverifikasi dan dipercaya

bahasa yang dimuat: kata-kata dengan saran positif atau negatif yang dapat menyebabkan kuat 

emosi di penonton; reporter menunjukkan pendapat mereka sendiri ketika mereka menggunakan bahasa yang dimuat

kelayakan berita: faktor-faktor yang membuat laporan layak ditayangkan atau dipublikasikan; layak diberitakan cerita memiliki ketepatan waktu, kedekatan, dampak luas, minat manusia atau daya tarik emosional, keunikan, dan / atau gambar atau rekaman video yang menarik

andal: informasi yang dapat dipercaya dan akurat; cerita dapat diandalkan jika mereka menyeluruh, akurat, kredibel, tidak bias, dan layak diberitakan

sensasionalisme: penggunaan material atau metode yang disengaja yang merangsang minat pemirsa,

rasa ingin tahu, atau reaksi, terutama melalui berlebihan

miring: sudut pandang atau pendapat pribadi yang diungkapkan dalam laporan; kemiringan sama dengan bias

sumber: seseorang yang diwawancarai untuk mendukung rincian atau menyediakan fakta untuk laporan berita; sumber juga bisa berupa materi tertulis apa pun yang digunakan wartawan untuk informasi latar belakang

ketelitian: kelengkapan cakupan; berita lengkap memberikan jawaban yang bagus pertanyaan 5W dan H dan berkonsultasi dengan banyak sumber

verifikasi: untuk memastikan bahwa sesuatu itu benar dan akurat

Pertanyaan 5W dan H: enam pertanyaan dasar — ​​Siapa?, Apa ?, Di mana ?, Kapan ?, Mengapa ?, dan Bagaimana? —Perhatian wartawan ketika menulis berita; pertanyaan berfungsi sebagai struktur untuk menulis dan mengedit

Laporan berita dikemas dalam berbagai cara untuk menyampaikan informasi dan memikat hadirin. Setiap format memiliki kelebihan dan kekurangan; Namun, semua berita harus memenuhi kriteria tertentu. Memahami kriteria untuk laporan berita yang solid akan membantu Anda mengevaluasi apakah informasinya dapat diandalkan.

BAGAIMANA EVALUASI LIPUTAN

Strategi 1: Catat apakah laporannya teliti. Ketelitian adalah kelengkapan, yang berarti pertanyaan utama harus dijawab dan semua sisi cerita diwakili.

• Apakah pertanyaan 5W dan H menjawab? Memimpin dan beberapa paragraf pertama seharusnya segera dan ringkas menjawab sebagian besar dari enam pertanyaan. Sisa cerita harus menguraikan pertanyaan-pertanyaan ini dan membahas poin tambahan.

• Pertanyaan apa yang tersisa? Jika pertanyaan masih belum terjawab, tanyakan pada diri Anda mengapa.

Strategi 2: Pertimbangkan apakah laporan itu akurat dan kredibel. Koran dan stasiun siaran berusaha untuk menjadi akurat dan kredibel termasuk bukti, saksi mata, dan ahli dalam laporan mereka.

• Dapatkah fakta diverifikasi? Berhati-hatilah terhadap penelitian dan studi yang tidak jelas.

• Siapa sumbernya? Hati-hati terhadap sumber atau sumber tak dikenal yang kredensialnya tidak diberikan.

Strategi 3: Pastikan laporannya objektif. Wartawan berita memiliki tanggung jawab untuk menjadi objektif. Karena penonton tidak memiliki akses ke informasi yang sama sebagai reporter, mereka mengandalkan reporter untuk menyajikan laporan yang seimbang dan faktual. Untuk mencapai keseimbangan, seorang reporter menyertakan informasi latar belakang yang cukup untuk memberikan konteks yang tepat dan mewawancarai beberapa sumber.

• Apakah beberapa sudut pandang diwakili? Perhatikan berapa banyak sumber yang disertakan dan siapa mereka mewakili. Jika hanya satu sumber yang diberikan, tanyakan pada diri Anda mengapa.

• Apa yang dikatakan bunyi? Gigitan suara dapat diambil di luar konteks untuk sensasionalisasi cerita atau tidak adil mewakili seseorang atau masalah.

• Apakah tujuan reporter? Dengarkan bahasa reporter, dan tanyakan pada diri Anda apakah bahasa dimuat atau apakah reporter mengajukan pertanyaan utama.

Strategi 4: Pertimbangkan kelayakan berita dan waspadai sensasionalisme. Jurnalis menggunakan kriteria tertentu untuk menentukan apakah suatu berita layak diberitakan, atau cukup signifikan untuk dilaporkan.

• Mengapa cerita dicetak atau ditayangkan? Tanyakan pada diri Anda sendiri apakah ceritanya tersebar luas dampak.

• Apakah ceritanya dibesar-besarkan? Beberapa cerita ditayangkan atau dicetak dengan harapan mengumpulkan audiens dan meningkatkan peringkat dan penjualan.

Sabtu, 14 April 2018

Jurnalistik Online 7: Nilai Berita dan Memulai Peliputan

Ketika Anda menyelami dunia jurnalistik, Anda akan mendengar beberapa reporter, produser dan editor menyatakan bahwa mereka memiliki "penilaian tentang berita dengan baik." Tapi apa itu benar?

Bagaimana bisa cerita tentang seorang Setya Novanto antara media online seperti detik.com dengan metrotvnews.com atau penayangan berita di media online lainnya berbeda? Itu karena setiap media online mengadopsi nilai berita sendiri. Ini bisa dikatakan dalam secara prinsip, tetapi lebih sering, nilai-nilai berita ini tidak tertulis dalam aturan media online yang bersangkutan, namun masih dipahami dengan jelas dari yang seharusnya.

Para staf redaksi yang dinilai memiliki "penilaian berita baik" biasanya memiliki pemahaman yang tajam tentang jenis cerita yang dianggap penting oleh media online mereka. Preferensi-preferensi tersebut dibentuk oleh beberapa pertimbangan:

• Demografi dan budaya - Bagaimana rincian usia masyarakat? Komposisi rasial? Industri utama? Masalah inti? Cerita-cerita yang mungkin terungkap dari kisah di satu kota yang penuh dengan anak muda, berbeda dengan kota yang didominasi banyak pensiunan, atau bahkan di sebuah kota yang penuh dengan perguruan tinggi.

• Persaingan - Kisah seperti apa yang menyebabkan persaingan antar media online? Bagaimana media online melayani masyarakat dalam memperlakukan berita? Di mana media online di kota tersebut mendapatkan sumber berita mereka? Apakah media online itu memiliki aliansi dengan grup media online lain di daerah tersebut? Bagaimana dengan situs web yang memuat berita tentang kota kita?

Memantau semua outlet berita ini penting. Ketika orang mencoba menjejalkan lebih banyak pekerjaan, tugas dan kegiatan lain ke dalam kegiatan mereka, hambatan terbesar bagi pemirsa, pendengar, dan pembaca adalah ruang waktu. Karena para awak redaksi ingin memastikan agara setiap orang menemukan bacaan media online yang layak untuk saat mereka membaca sebagai bagian dari investasi waktu mereka.

• Nilai-nilai Media Online - Seringkali ini ditetapkan oleh manajer umum dan direktur pemberitaan, sehingga kebijakan redaksi dapat, dan memang bisa berubah ketika pimpinan redaksi tersebut baru datang ke ruang rapat redaksi.

Reporter yang cerdas adalah murid yang baik dari semua faktor di atas, bukan sebagai taktik untuk menyesuaikan diri dengan bos, tetapi karena berita itu masuk akal, tidak hanya untuk mengenal situasi di sekelilingnya secara menyeluruh tetapi juga untuk mengetahui bagaimana media online Anda memperlakukan informasi berita itu. Banyak wartawan yang akhirnya frustrasi - atau dipecat - karena mereka gagal mempelajari apa yang penting bagi atasan mereka / direktur pemberitaan mereka.

Ketika para wartawan menapaki tangga jurnalisme, para redaktur/ produser dan wartawan cenderung bergerak dengan baik, terutama di tahun-tahun awal karier mereka. Kebanyakan mereka tiba di kota baru dan hanya mengetahui sedikit informasi di lokasi lingkungan tempat mereka yang ingin dipertimbangkan untuk tinggal. Tetapi dengan akses internet ke media online, hanya dengan beberapa klik saja, lebih memudahkan dari sebelumnya untuk mengatasi masalahnya, bahkan sebelum Anda tiba dihari pertama bekerja. Jurnalis cerdas, memastikan mereka berkomitmen terhadap layanan publik.

Reporter yang cerdas memahami nilai, prioritas dan gaya pimpinan mereka dan belajar untuk menyusun proposal atau rencana peliputan yang sesuai dengan preferensi tersebut. Itu tidak berarti Anda harus mengabdikan diri untuk menyenangkan atasan tetapi lebih untuk memastikan upaya Anda sesuai dengan kebijakan redaksional.

Jadi bagaimana Anda memutuskan menilai unsur berita?

Mendiang David Brinkley pernah berkata, "Berita adalah apa yang saya katakan."

Mungkin kedengarannya agak sombong, tapi apa yang dimaksud Brinkley adalah tidak ada aturan mutlak apa yang menentukan Anda saat membuat berita. Apa yang mungkin tampak seperti ide cerita hebat untuk seorang reporter, dapat dianggap sebagai omong kosong oleh direktur pemberitaan.

Sebuah proposal berita yang terencana dengan baik adalah fondasi untuk sebuah cerita yang dilaporkan dengan baik, yang kemudian merupakan kerangka untuk sebuah cerita yang ditulis dengan baik. Itu adalah kisah-kisah yang memiliki dampak terbesar pada pembaca media online.
Nilai Berita dan unsur-unsurnya
Sebuah berita biasanya memiliki sebagian besar, atau bahkan semua elemen berikut:

• Ketepatan waktu - Suatu peristiwa yang terjadi pagi ini memiliki peluang yang jauh lebih baik untuk membuat siaran berita hari ini daripada sesuatu yang terjadi kemarin atau minggu lalu - kecuali kita dapat memperbarui cerita.

• Kedekatan - Apakah peristiwa itu terjadi di kota kami? Daerah kita? Truk yang terbakar ketika memuat di sebuah pabrik di kota yang terdekat, jauh lebih penting bagi pembaca daripada jika insiden yang sama terjadi di kota yang berjarak 500 km jauhnya.

• Signifikansi - Apa implikasi dari peristiwa yang kita laporkan? Apa yang akan terjadi? Jika jawaban untuk pertanyaan itu "tidak banyak," maka mungkin kita memiliki cerita dengan banyak drama tetapi sedikit kekuatan.

• Mempromosikan - Apakah tokoh sentral dalam cerita kita dikenal luas? Jika walikota ditangkap karena mengemudi mabuk, itu cerita besar. Jika seorang pekerja di pabrik setempat ditangkap dengan tuduhan yang sama, tidak mungkin informasi ini menarik untuk diberitakan.

• Konflik - Apakah ada dua kelompok yang berhadap-hadapan dalam satu permasalahan? Tidak setiap berita harus memiliki ketidaksepakatan, tetapi biasanya informasi perselisihan satu dengan pihak lainnya, menjadi berita menarik. 

• Drama - Banyak berita yang menonjol berisi unsur drama yang kuat. Misalnya: Pengacara dalam kasus korupsi, tiba-tiba memanggil saksi penting yang selama ini disembunyikan. Bagaimana seorang presiden berjuang agar tidak diinterpelasi oleh anggota dewan. 

• Minat - Beberapa unsur di atas, tidak seluruhnya ada dalam sebuah informasi berita. Tetapi jika pembacara menganggapnya menarik, itu cukup mengangkat nilai berita. 

Berita-berita yang baik dan bernilai tinggi memiliki banyak, atau jika tidak semua elemen di atas. Seorang reporter yang baik melakukan cek list daftar di atas dengan proposal cerita yang akan dibuat, sehingga berita yang diliput menarik bagi pembaca. 

Berita buruk / berita lembut

Berita berat mengacu pada peristiwa, kecelakaan, pengumuman, dan perkembangan yang terjadi hari ini, dan mungkin masih berlangsung. Tantangannya adalah mengubah kejadian-kejadian ini menjadi cerita dengan awal, tengah, dan akhir - sesuatu yang lebih dari sekadar pembacaan fakta yang dibumbui dengan suara-suara dan sikap serius.

Akhir dari sebuah acara breaking news biasanya menandai-awal dari cerita.

Pimpinannya adalah kesimpulan - kita katakan berapa banyak kerusakan yang diakibatkan badai, apa yang diputuskan dewan kota, dan di mana petir menerjang dan siapa yang terluka.

Soft news, atau features, adalah cerita yang menambah rasa pada berita tetapi biasanya tidak terkait pemberitaan harian. Tapi itu bisa menjadi yang paling berkesan bagi pembaca.

Jika ada kereta api di sebuah kota bertabrakan dengan salah satu mobil tanker yang menyebabkan truk itu meledak, itu menjadi kabar berita yang harus segera sampaikan hari itu juga. Tetapi bagaimana seekor anjing berkaki tiga (pincang) membantu seorang wanita di kursi roda, merupakan kisah yang dapat kita ceritakan besok atau minggu depan.

Parameter berita

Setelah Anda mengasah ide cerita, beberapa pekerjaan tetap ada sebelum Anda mulai melaporkan. Anda harus mempertimbangkan beberapa faktor sebelum memulai pelaporan:

• Rentang - Apa cakupan ceritamu? Apakah itu akan membutuhkan pelaporan dari timur tengah, eropa atau hanya beberapa berita dari taman lokal seperti seekor anjing menggigit orang-orang yang bermain di sana?

• Dimensi - Apa kerangka waktu untuk cerita kita? Apakah kita perlu rekaman arsip?

• Pendekatan - Apakah cara terbaik untuk menceritakan kisah seseorang dengan profil, ringkasan, pembaruan, adegan-setter atau yang lain?

• Nada - Apakah ada perselisihan, tragedi, insiden komik? Mengatur suasana hati yang tepat adalah penting.


• Tema - Mungkin inilah elemen yang paling penting. Cerita kita tentang apa? Mengapa kita meminta perhatian pembaca? Di penulisan berita, kita dapat menentukan kalimat yang memberi tahu pembaca: "Inilah alasan saya memberi tahu Anda mengenai informai yang kami beritakan ini."

Kamis, 29 Maret 2018

PRESS RELEASE Gerakan Nasional Perawat Honor Indonesia



Press Release
REMBUG NASIONAL GERAKAN NASIONAL PERAWAT HONOR INDONESIA
Tema:
“Perawat Honor Untuk Indonesia Sehat”



GERAKAN NASIONAL PERAWAT HONOR INDONESIA ( GNPHI ) adalah suatu gerakan secara nasional untuk memperjuangkan status Perawat Honor Indonesia,GNPHI dinaungi oleh  Organisasi Profesi PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA ( PPNI ) sesuai tingkatan masing-masing.GNPHI sudah melakukan perjuangan bersama PPNI dari 16 Maret 2017 tetapi belum menemui titik terang, dimana status Perawat honor Indonesia sangat perlu kejelasan seperti status kepagawaian ada sepuluh jenis ( honorer, kontrak, BLUD, PTT daerah, honor daerah, magang, tenaga harian lepas, wiyata bakti,tenaga sukarela, supporting staff  ) dan penggajian yang masih banyak di bawah UMR/sukarela.GNPHI dengan dukungan penuh dari PPNI disemua tingkatan secara terus-menerus  memperjuangkan terwujudnya peningkatan kesejahteraan dan status pegawai yang jelas dan bersifat tetap bagi Perawat honor Indonesia yang bekerja di Instansi Pemerintah.

Dengan diselenggarakan Rembug Nasional di Jakarta, pada tanggal 28 Maret 2018 dengan mengundang eksekutive dan legislatif dengan tujuan agar semua pihak tahu bahwa Perawat honor Indonesia mempunyai peranan penting untuk Indonesia sehat dan Perawat honor Indonesia yang hadir dari berbagai Propinsi bisa menyampaikan keadaan didaerahnya   , karena GNPHI sudah melakukan pertemuan dengan kementerian terkait tetapi sampai saat ini belum ada kebijakan untuk Perawat honor Indonesia.

Presiden RI telah merumuskan 9 agenda prioritas dalam Nawa Cita Pembanguan Nasional. Salah satu fokusnya adalah pada Peningkatan Kualitas Hidup Manusia dan Kesejahteraan Masyarakat, yang dikemas dalam Program Indonesia Sehat. Perwujudan program tersebut antara lain melalui Paradigm Sehat, Penguatan Pelayanan Kesehatan, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan adanya program prioritas tersebut yaitu peningkatan kualitas hidup manusia yang dikemas dalam Indonesia sehat, maka perlu kami sampaikan bahwa Perawat honor Indonesia mempunyai peranan penting untuk menjalankan program nawacita Persiden Republik Indonesia.

Perawat honor Indonesia yang selama ini ikut menjaga mutu pelayanan kesehatan dan stabilitas pelayanan kesehatan di Indonesia agar di perhatikan haknya sebagai seorang pekerja profesional dan mendapatkan kebijakan untuk memperjelas status pegawai dan kesejahteraan,dimana seorang Perawat yang merawat menyangkut nyawa manusia bisa diberikan haknya yang mempunyai nilai kemanusiaan yang tinggi, sehingga tidak ada lagi status kontrak dan gaji perawat dengan sukarela  hingga belasan tahun. 

Dengan adanya Rembug Nasional  yang merupakan bagian proses perjuangan GNPHI bisa menjadi masukan arah kebijakan bagi penentu kebijakan, karena Perawat Honor Indonesia benar-benar ada dan nyata dalam melakasanakan program Pemerintah baik di Rumah Sakit, Puskesmas maupun instansi kesehatan lainnya.

Contact Person
Bambang Utomo,Skep,Ners     : Ketua Panitia Rembug Nasional GNPHI

Sabtu, 17 Maret 2018

Jurnalistik Online 7: Teknik Perencanaan dan Peliputan Berita Online

Jurnalistik Online 7: Teknik Perencanaan dan Penulisan Berita Online





Media online (online media) disebut juga dengan istilah digital media adalah media yang tersaji secara online di internet. Media online secara umum, yaitu segala jenis atau format media yang hanya bisa diakses melalui internet berisikan teks, foto, video, dan suara. Secara khusus yaitu terkait dengan pengertian media dalam konteks komunikasi massa, yaitu media yang menyajikan karya jurnalistik (berita, artikel, feature) secara online.

Menulis berita di media online seperti  website, bukanlah praktek yang mudah dilakukan semua orang, tetapi bukan berarti sulit untuk dipelajari. Praktek merupakan kunci utama bagi seseorang untuk melatih dirinya agar mampu mengartikulasikan realitas ke dalam bentuk tulisan. Demikian juga penguasaan teknik menulis bukan sebuah jaminan seseorang dapat dikatakan pandai dan lihai. Semuanya membutuhkan banyak latihan dan kontiniu. Begitu juga dengan kegiatan jurnalistik membutuhkan keterampilan, keuletan dan ketepatan dalam penyajiannya. Dengan kata lain menulis berita untuk media online seperti website saat ini adalah suatu tuntutan.

Meskipun demikian menulis berita di media website merupakan gaya menulis online (online writing style) sehingga sedikit banyak juga diperlukan tekniknya, tidak berlebihan jika Penulis menyebut dengan uangkapan sederhana “tips pedoman dasar dan standar" dalam menulis berita di website, dengan harapan setelah menguasai dengan baik, lalu dipraktekkan maka dijamin kemampuan menulis akan berkembang bahkan bisa menulis berita seperti halnya wartawan profesional.

Gagasan penulisan artikel sederhana ini yang sebagaimana Penulis sebut di atas sesungguhnya terinspirasi dari pengelaman Penulis dipercaya sebagai koordinator tiga kali pindah tugas di pengadilan agama, dan ketika membaca berbagai berita terutama di salah satu fitur website www.badilag.net berita seputar peradilan agama, rata-rata pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama menggirim berita untuk dimuat di website Badilag, ternyata semangat penulisan beritanya patut diberi apresiasi, namun barangkali penyajian dan teknik penulisan perlu dipoles agar menyesuaikan dengan teknik-teknik menulis berita pada umumnya khususnya di media online. 

 

Pengertian Berita

Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Laporan berita merupakan tugas profesi wartawan, saat berita dilaporkan oleh wartawan laporan tersebut menjadi fakta / ide terkini yang dipilih secara sengaja oleh redaksi pemberitaan / media untuk disiarkan dengan anggapan bahwa berita yang terpilih dapat menarik khalayak banyak karena mengandung unsur-unsur berita.[1]

Menurut A.M. Hoeta Soehoet dalam bukunya “Dasar-Dasar Jurnalistik”, berita bagi seseorang adalah keterangan mengenai suatu peristiwa atau isi pernyataan seseorang yang menurutnya perlu diketahui untuk mewujudkan filsafat hidupnya.

Dalam buku Here’s the News yang dihimpun oleh Paul De Maeseneer, berita didefinisikan sebagai informasi baru tentang kejadian yang baru, penting, dan bermakna (signifikan), yang berpengaruh pada para pendengarnya serta relevan dan layak dinikmati oleh mereka.

Definisi berita tersebut mengandung unsur-unsur:

o   Baru dan penting,

o   Bermakna dan berpengaruh,

o   Menyangkut hidup orang banyak,

o   Relevan dan menarik.

Jadi berita merupakan pemberitahuan yang mengungkap tentang kejadian atau hal yang terjadi pada waktu tertentu, sebagai informasi baru yang disajikan dalam pembacaan / penulisan yang jelas, aktual dan menarik.

Syarat Berita

Wartawan atau reporter tugasnya sama, mencari informasi yang menarik dan akhirnya dapat ditulis menjadi sebuah berita, demikian juga bagi yang dipercaya menulis berita di website. Tidak akan mungkin tulisan seorang kuli tinta atau reportase yang disampaikan reporter bila tidak mengerti  sama sekali tentang persoalan yang diinformasikannya. Oleh karena itu agar berita yang ditulis bernilai berita bahkan bernilai ilmu pengetahuan tentu ada beberapa prinsip dasar yang harus diketahui dalam menulis berita, sebagai salah satu syarat dikatakan berita.

Tujuannya agar tulisan yang disajikan di media website bisa disebut berita, tergantung dari kredibilitas dan keterampilan jurnalis yang menulis berita, sehingga sebuah berita memiliki syarat khusus yang harus menjadi standar.

Di antara syarat berita adalah sebagai berikut:[2]

a.       Fakta, yaitu bahwa sebuah berita merupakan fakta, bukan karangan (fiksi) atau dibuat-buat. Ada beberapa factor yang menjadikan berita tersebut fakta, yaitu kejadian nyata, pendapat (opini) narasumber dan pernyataan sumber berita. Opini atau pendapat pribadi wartawan atau reporter yang dicampuradukkan dalam pemberitaaan yang ditayangkan bukan merupakan suatu fakta dan bukan karya jurnalistik;

b.      Obyektif, yaitu berita harus sesuai dengan keadaan sebenarnya, tidak boleh dibumbui sehingga merugikan pihak yang diberitakan. Reporter atau wartawan dituntut adil, jujur dan tidak memihak, apalagi tidak jujur secara yuridis merupakan sebuah Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik;

c.       Berimbang, yaitu bahwa sebuah berita biasanya dianggap berimbang apabila wartawan atau reporter memberi informasi kepada pembacanya, pendengarnya atau pemirsanya tentang semua detail penting dari suatu kejadian dengan cara yang tepat. Porsi harus sama, tidak memihak atau tidak berat sebelah. Reporter harus mengabdi pada kebenaran ilmu atau kebenaran berita itu sendiri dan bukan mengabdi pada sumber berita (check, re-check and balance) yang perlu didukung dengan langkah konfirmasi dari pihak-pihak yang terkait dalam pemberitaan;

d.      Lengkap, yaitu dimana berita yang lengkap adalah berita yang memuat jawaban atas pertanyaan who, what, why, when, where, dan how;

e.      Akurat yaitu berita yang ditampilkan harus tepat, benar dan tidak terdapat kesalahan. Akurasi sangat berpengaruh pada penilaian kredibilitas media maupun reporter itu sendiri. Akurasi berarti ketepatan bukan hanya pada detail spesifik tetapi juga kesan umum, cara detail disajikan dan cara penekannya.

Sementara agar berita mempunyai kelayakan atau standar berita oleh Enjang Muhaemin ada 4 syarat standar kelayakan berita dapat disajikan yaitu: penting, menarik, aktual, dan faktual.[3]

Dalam konteks jurnalistik, kata “penting” dapat dimaknai sebagai sesuatu yang utama, atau membutuhkan perhatian, atau sesuatu yang mendesak diketahui khalayak luas. Dikatakan menarik bila saja unik, langka, aneh, tidak lazim, atau sesuatu yang mengandung daya tarik insani (human interest). Biasanya ditulis dalam bentuk feature. Di dalamnya bisa karena ada unsur ketegangan, kecemasan, kepopuleran, atau sisi daya tarik insani lainnya. Berita yang menarik kendati tidak selalu bikin heboh, tapi tetap memiliki nilai tersendiri di hati pembaca. Ini sebabnya peristiwa, atau kejadian yang menarik tetap layak diberitakan. Penting atau menarik menjadi dua syarat yang bersifat fleksibel dalam menentukan sesuatu menjadi berita. Artinya bisa karena pentingnya saja, bisa karena menarik saja, tapi juga bisa kedua-duanya dengan kata lain penting dan sekaligus menarik.

Meskipun demikian penting dan menarik saja ternyata belum cukup pasalnya berita juga harus memenuhi dua syarat aktual (baru), dan faktual (nyata adanya, bukan rekayasa). Dua syarat ini tidak bisa dipilih hanya salah satunya saja. Keduanya harus menjadi pertimbangan mutlak menentukan kelayakan berita. Tanpa ini sepenting dan semenarik apa pun sesuatu, tidak bisa dikategorikan berita yang baik.  Peristiwa faktual yang menghebohkan puluhan tahun lalu, bukanlah berita untuk saat ini. Selain karena sudah basi, juga sudah kehilangan aktualitas.[4]

Dasar-Dasar Jurnalistik

Setiap penulis berita wajib memahami dan menguasai dasar-dasar jurnalistik (basics of journalisme) agar menjalankan aktivitas jurnalistik dengan baik dan benar. Penulis profesional tidak sekadar bisa menulis berita, tetapi juga memahami dan menaati aturan yang berlaku di dunia jurnalistik, terutama kode etik jurnalistik. Jika ada tulisannya asal atau beritanya ngawur dari segi penulisan ataupun dari segi substansi, kemungkinan besar penulis berita belum atau tidak memahami dan menguasai dasar-dasar jurnalistik itu sendiri.

Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara dalam bukunya "Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar". Jakarta: Penerbit Buku Kompas 2005, mempunyai ciri-ciri yang penting untuk kita perhatikan, yaitu:[5]

ü  Skeptis

Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.

ü  Bertindak (action)

Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.

ü  Berubah

Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.

ü  Seni dan Profesi

Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.

Peran Pers

Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.

Proses Informasi

Teknik pembuatan informasi atau berita  terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1.       News Planning yaitu perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan rapat proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dari rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan / berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para jurnalis.

2.       News Hunting yaitu pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para jurnalis melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.

3.       News Writing yaitu penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.

4.       News Editing yaitu penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.

 Teknik Dasar Menulis Berita

Dipadukan dengan "hasil pengamatan" terhadap situs berita seperti BBC, inilah lima teknik dasar menulis di media online, dengan fokus pada "tampilan naskah" di single page / single post. [6]

1.       Alinea pendek

Tulisan online, termasuk di blog, hendaknya menggunakan alinea (paragraf) pendek. idealnya, satu alinea maksimal lima baris (five lines per paragraph). Contoh terbaik bisa disimak situs BBC Indonesia.

2.       Jarak antar alinea

Harus ada jarang antar alinea, menyisakan "ruang kosong" atau "ruang putih" (white space) antar-alinea. Ini membuat naskah online mudah dipindai dan enak dibaca.

3.       Tidak ada indent

Tulisan online tidak mengenal indent, tekuk / lekuk ke dalam di awal alinea, seperti gaya naskah koran atau majalah. Ide penulisan online nomor 3 ini boleh diabaikan, tapi jadinya "tidak lazim". Coba simak situs-situs terkemuka, adakah indent?

4.       Rata kiri (align eft)

Ini optional. Tapi jika menggunakan "align justify", maka tulisan Anda akan terkesan formal, serius, dan kaku. Jarang sekali ada situs yang menggunakan "justify", misalnya situs instansi pemerintah yang "terbawa suasana formal-birokratis". Rata kiri akan membuat naskah menjadi nyaman dibaca, scannable, dan banyak menyisakan "ruang istirahat mata".

5.       Highlight

Akan lebih scannable dan enak dibaca jika tulisan online diberi tanda-tanda khusus pada bagian khusus, seperti ditebalkan (bold), dimiringkan (italic), diberi warna (color), atau di-block qoute. Ini akan menjadikan naskah online Anda "eye catching" menarik perhatian mata user.

 

Anatomi Berita

Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut:[7]

Ø  Judul atau kepala berita (headline),

Ø  Baris tanggal (dateline),

Ø  Teras berita (lead atau intro), dan

Ø  Tubuh berita (body).

Bagian-bagian tersebut tersusun secara terpadu dalam sebuah berita, sering didengar ialah susunan piramida terbalik:

Metode penulisan lebih mengarah kepada inti berita, hal mana lebih menekankan dari yang bersifat umum (generalis) menuju  ke hal yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan, dan juga memudahkan redaktur memotong bagian tidak / kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita. 

Lebih lengkap anatomi atau struktur berita dijelaskan sebagai berikut:

Pendahuluan

Pembuka suatu pokok persoalan yang akan dibahas dalam tulisan / berita.  Secara teknis, tidak boleh ditulis terlalu panjang dan memasuki pembahasan pokok permasalahan. Ia menjadi pintu gerbang pengenalan topik kepada pembaca untuk mengetahui alur tulisan dan tujuan penulis. Dalam pendahuluan, penulis melakukan pembatasan masalah dan pengertian-pengertian  sehingga pembaca sudah diset ke dalam logika tertentu. Jangan lupa juga ditulis waktu kejadian peristiwa berita atau kapan kejadiannya, tempat kajadianya, dan unsur waktu, perlu ditulis, hari, tanggal dan tempat.

Inti atau pembahasan

Merupakan tahap pemaparan pokok persoalan. Bagian ini  sering disebut inti atau pengembangan. Pada bagian ini penulis menjalin gagasan secara sistematis, logis dan dialektis ketika menempatkan pokok pikiran yang akan dibahas.  Pengembangan gagasan akan berpuncak pada  ketegasan mksud tulisan atau klimaks.

Penutup

Merupakan bagian akhir tulisan yang berisi kesimpulan, saran atau pendapat penulis tentang pokok persoalan yang dikemukannya sebagai arahan bagi pembaca. Ada dua cara menulis penutup, yaitu:

Penutup yang bersifat terbuka, yaitu derngan memberi peluang atau kesempatan kepada pembaca agar menarik kesimpulan sendiri mengenai pokok persoalan yang dibahas;

Penutup yang bersifat tertutup, yaitu penutup tulisan yang menyodorkan pendapat yang bersifat akhir. Pendapat yang bersifat akhir dibuat untuk disodorkan kepada pembaca tanpa ada kesempatan untuk menarik kesimpulan sendiri.

Pemilihan Judul Berita

Judul  berita (news headline) merupakan bagian berita yang pertama kali dilihat pembaca. Judul berita akan menentukan apakah pembaca akan membaca berita tersebut atau tidak. Berikut ini tata membuat judul berita:[8]

·         Menggambarkan, meringkas, atau mencerminkan isi berita.

·         Ringkas dan to the point (lugas);

·         Terdiri dari Subjek dan Predikat (Inggris: Subject + Verb);

·         Nama seseorang hanya digunakan dalam judul jika dia tokoh;

·         Menggunakan tanda kutip tunggal - jika berupa kutipan;

·         Jelas atau tidak bermakna ganda;

·         Menggunakan kalimat aktif;

·         Hindari kalimat tanya.

Sehingga pemilihan judul yang menarik, susunan kalimat yang baik, alur berita yang runtut dan penulisan yang tepat. Agar berita yang disajikan bisa benar-benar dinikmati oleh pembaca.

Perlu diketahui kata dalam judul boleh menghilangkan pre-fix atau awalan. Misalnya, "Ketua PA Blambangan Umpu Kumpulkan Hakim” atau Tim Tennis PTA Bandarlampung Kalahkan PA Blambangan Umpu", namun dalam lead dan tubuh berita tetap menggunakan awalan me (mengumpul atau mengalah).

Judul merupakan inti dari teras berita. harus jelas, mudah dimengerti dengan sekali baca dan menarik, sehingga mendorong pembaca untuk mengetahui lebih lanjut isi tulisan. Selain itu judul juga harus menggigit, perlu kejelasan makna asosiatif setiap unsur sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, dengan rumus kalimat lengkap SPOK (subjek, predikat, objek, dan keterangan), tetapi jika sebatas untuk judul juga boleh cukup kalimat SP (subjek dan predikat) atau SPO saja (subjek, predikat, objek), tanpa adanya unsur K (keterangan waktu/keterangan tempat).

Panjang judul hendaknya maksimal dua baris terdiri atas empat sampai enam kata, jika panjang judul satu baris maksimal terdiri atas lima kata, "Panitera PA Blambangan Umpu Kumpulkan Panitera Pengganti”

Semua kata di dalam judul dimulai dengan huruf besar, kecuali kata sambung seperti dan, di, yang, bila, dalam, pada, oleh, dan kata tugas lainnya yang ditentukan redaksi. Penulisan judul tidak boleh dimulai dengan angka. Hindari penggunaan singkatan yang tidak populer. Judul bersifat tenang dan tidak bombastis. Intinya jangan gunakan huruf kapital semua untuk judul posting/judul berita di media online/blog. Jangan pula All Caps dipakai di "news body".

Misalkan: Dubes Rusia Untuk Asean Temui Jaksa Agung Bahas Narkotika. Jangan:  DUBES RUSIA UNTUK ASEAN TEMUI JAKSA AGUNG BAHAS NARKOTIKA

 

Teras Berita

Dalam struktur berita ada bagian yang disebut lead atau teras berita. Teras berita adalah bagian berita yang terletak pada alinea pertama. Lead adalah paragraf pertama dalam berita yang mengandung gambaran umum suatu berita. [9]

Lead (teras berita) adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang dbuat. Jika leadnya saja kurang menarik, pembaca dipastikan akan mengucapkan “wassalam” saja. Pembaca merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Dengan teras berita perlu mendapat perhatian uatama, dengan tujuan tulisan yang dbuat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya.

Dengan ungkapan lain boleh dikatakan selain judul, lead adalah upaya memikat hati pembaca. Oleh karenanya lead menjadi begitu urgen, meskipun tidak pokok tentunya. Dalam dunia jurnalistik, kita bakal menemukan beberapa jenis lead. Ada empat jenis lead: lead berita langsung, lead pernyataan, lead peristiwa, dan lead untuk feature (berita ringan/berita kisah).

Menurut Abdul Chaer[10] menyebutkan bahwa lead yang fungsinya sama dengan intro dalam musik disebut juga teaser, penggoda, karena pada hakekatnya bagian awal dari tulisan tak ubahnya sebagai penggoda agar pembaca tertarik untuk membacanya terus.

Tips sederhana untuk membuat lead mudah yaitu pertama seorang penulsi berita cukup bertanya kepada dirinya sendiri tentang fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Pertanyaan yang harus ditanyakan adalah: Apa yang unik, atau paling penting atau tidak biasa dari sebuah kejadian? Siapa yang terlibat, siapa yang melakukan atau siapa yang memberikan penjelasan?

Setelah berhasil menjawab dua pertanyaan diatas maka seorang wartawan harus menjawab pertanyaan untuk membentuk sebuah lead, yaitu lead jenis apa yang lebih tepat dipakai, gaya bahasa seperti apa yang akan dipakai di dalam lead, dan apa yang lebih membuat pembaca tertarik untuk ditempatkan diawal.

Pertanyaan diatas mungkin terlihat mudah, tetapi dalam kenyataannya masih membuat penulis berita terutama pemula kesulitan. Akibatnya teras berita menjadi tidak fokus dan tidak menggambarkan keseluruhan isi dari berita tersebut.

Isi Berita dari Elemen Berita 5W+1H

Sesungguhnya sangatlah mudah untuk menulis berita cukup memakai rumus standar berdasarkan elemen atau unsur berita yang disebut dengan istilah ”5W+1H” (who, what, when, where, why, how) atau siapa, apa, kapan, dimana, kenapa, bagaimana.[11]

Berita merupakan laporan peristiwa atau catatan tentang suatu kejadian, sudah dapat dikatakan suatu peristiwa dipastikan mengandung keenam unsur tersebut sehingga untuk lebih memudahkan diuraikan sebagai berikut:

Who (siapa) artinya siapa-siapa saja yang terlibat dalam kejadian/peristiwa, di antaranya barangkali bisa pelaku, korban, pemeran utama, peran pengganti, figuran, orang, lembaga, organisasi, pejabat tertentu, dan lain sebagainya;

What (apa) dalam suatu peristiwa apa yang telah terjadi, kejadiannya apa, acara apa?

When (kapan) peristiwa/kejadiannya, daerah kajadianya, unsur waktu, biasa ditulis dalam bentuk hari dan tanggal, misalnya, pada hari Senin (22/4);

Where (dimana) kejadiannya, tempat acaranya itu di mana, unsur tempat, biasa ditulis, misalnya, "di Depan Gedung Pengadilan Agama Manna Jalan Raya Padangpanjang Manna" atau "di Lapangan Sekundang Manna Bengkulu Selatan";

Why (kenapa) peristiwa itu terjadi demikian, terus apa penyebabnya, apa latar belakangnya, apa tujuannya, mengapa itu dilakukan, dan sebagainya;

How (bagaimana) proses kejadiannya, apa saja acaranya, siapa saja pembicaranya jika ada, barang kali di situ ada polisi, kejadianya rusuh / aman, kondisi cuaca diguyur hujan / terik panas, pemateri menyampaikan apa saja, dan sebagainya.

Dengan demikian secara sederhana sebuah tulisan yang telah ditulis mengandung unsur 5W+1H sehingga layak disebut berita.

Berikut beberapa contoh berita sebagai pedoman bagi yang akan menulis berita apakah mengandung atau tidak dari  elemen who, what, when, where, why, how (siapa melakukan apa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana).

Contoh berita dari: www.pitunews.com

Polisi Himbau Masyarakat Waspada Modus Pembobolan Bank

 

Jakarta-Polda Metro Jaya menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati saat menerima telepon yang mengaku dari bank tertentu dan meminta identitas nasabah. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, kasus pembobolan rekening nasabah BRI yang dialami Andi Maulana, tim asistensi Bawaslu DKI, yang videonya viral di media sosial (medsos) berawal dari penelepon yang mengaku dari bank tersebut.

 

“Mendapat telepon dari seseorang, lalu menanyakan identitas, nama, ibu kandung, alamat dan tanggal lahir. Kemudian disampaikan semua, sampai menanyakan kode rahasia yang tidak bisa disampaikan ke orang lain,” ujarnya di halamana Direktorat Kriminal Khusus PMJ, Jumat (16/3/2018).

 

Argo juga meminta agar masyarakat pengguna medsos waspada bila menemukan video berisi ajakan atau rayunan agar dikonfimasi ke pihak yang berkompeten. “Secara logika betul tidak, ada orang menelepon mengaku-ngaku. Hati-hati, harus dicek dari bank mana. Bisa dikroscek secara online dan menanyakan berbagai macam itu boleh. Masyarakat harus waspada menerima atau melihat dari media sosial,” terangnya. Pada kesempatan yang sama, Andi Maulana mengaku bahwa pemboboalan rekening miliknya bener terjadi pada Rabu 14 Maret 2018 sore.

 

Andi Maulana pun menyampaikan permohonan maaf atas viralnya video tersebut yang meresahkan dan menggangu kenyamanan masyarakat atas kejadian yang dialaminya.“Informasi yang saya sampaikan berisifat spontanitas pada saat setelah kejadian, setelah saya mengecek dan melapor ke Cabang BRI bahwa benar saldo rekening telah berkurang. Karen itu ada viral spontanitas yang saya lakukan,” akunya.

 

Menurut Andi, saat itu dia menerima telepon dari nomor 08217869xxxx yang tidak kenalnya serta mengaku dari BRI. “Orang tersebut melakukan bujuk rayu sehingga saya memberikan kode rahasia, orang tersebut bisa transaksi menggunakan rekening saya,” ujarnya. Diketahui pegawai Bawaslu DKI Jakarta mengaku menjadi korban aksi pembobolan rekening nasabah BRI. Saldo rekening miliknya berkurang secara misterius hingga jutaan rupiah. Kejadian tersebut lalu dilaporkan ke pihak BRI. (Jul)

 

Dari contoh di atas, dapat dibedah secara bersama-sama elemen beritanya yaitu:

Who (siapa) yang menyelenggarakan yaitu Polda Metro Jaya;

What (apa) acaranya yaitu mengadakan keterangan pers;

When (kapan) pelaksanaannya yaitu pada hari Jumat (16/3/2018);

Where (dimana) tempatnya yaitu bertempat di Polda Metro Jaya (PMJ), Jakarta;

Why (kenapa) harus diadakan yaitu Mengklarifikasi pernyataan Andi Maulana dan himbauan agar masyarakat waspada terhadap penipuan di bidang perbankan;

How (bagaimana) yaitu dihadiri Juru bicara Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dan korban penipuan perbankan BRI Andi Maulana.

K. Kesimpulan

Berita sebagai informasi baru dan penting mengenai suatu peristiwa, keadaan, gagasan, atau menarik untuk diketahui masyarakat Keterampilan menulis ditentukan kemampuan berpikir yang sistematik, logik dan dialektis, agar karya jurnalistik memaparkan pokok persoalannya secara runtut dan sistemis sehingga dimengerti khalayak. Dan struktur penulisan berita hendaknya piramida terbalik. Artinya, tingkat penyajian berita diukur dari prioritas unsur penting suatu berita dalam komposisinya. Semakin ke bawah tulian, isi atau informasi yang disajikan semakin tidak penting.

Daftar Pustaka

Abdul Chaer,  Bahasa Jurnalistik, Jakarta, Rineka Cipta, 2010.

R. Masri Sareb Putra, Teknik Menulis Berita dan Feature, Jakarta, 2006.

Luwi Ishwara, Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar, Jakarta: Penerbit Buku Kompas 2005, dalam http://pelitaku.sabda.org.

http://id.wikipedia.org

http://hafizansyari.blogspot.com.

http://www.enjangmuhaemin.com.

http://www.romelteamedia.com.

http://pelitaku.sabda.org

http://jurnalistikpraktis.blogspot.com.

http://www.komunikasipraktis.com.