Cari Blog Ini
Sabtu, 06 Oktober 2018
Jurnalistik Online 5: Macam Media Online dan Menulis Laporan Berita
Dalam menulis berita atau menyusun laporan peristiwa, penulis berita harus mengedepankan unsur terpenting dari 5W+1H di atas: pelaku, peristiwa, tempat, waktu, tujuan, atau detail?
Lazimnya, unsur WHO atau WHAT merupakan unsur terpenting sehingga dikedepankan. Karena itu, saya sudah menemukan formula bagus untuk menulis berita yang baik sesuai dengan kaidah jurnalistik, yaitu:
Who did What, When, Where, Why, How.
* SIAPA melakukan APA, kapan, di mana, kenapa, bagaimana?
* Contoh: Ikatan Wartawan Online menggelar Mubes Jumat (8/9/2017) di Jakarta untuk membahas visi misi organisasi.
* Contoh lain: TimNas U-19 Indonesia mengalahkan Brunai 8-0 dalam pertandingan Piala AFF, Rabu (13/9/2017) di Stadion Nasional Myanmar.
* Silakan buka situs berita atau media onlie favorit Anda. Silakan bandingkan alinea pertamanya dengan rumus di atas.
* Perhatikan awal kalimat (awal paragraf) yang saya kasih highlight kuning --unsur WHO.
* Tentu, formula "SIAPA melakukan APA" di atas tidak baku. Itu hanya "standar" penulisan berita yang baik sesuai dengan kaidah jurnalistik --5W1H plus Piramida Terbalik.
Jika unsur When, Why, Where, bahkan How dianggap paling penting, maka bisa dikedepankan, namun tindakan yang dilakukan tersebut bukan kebiasaan yang dilakukan selama ini.
Hadirnya Jurnalisme Online kini menjadi perkembangan dari jurnalisme tradisional. Dimana keterbukaan informasi, dapat diakses kapan saja dan dimana saja didukung dengan hadirnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mumpuni (Harahap, 2016:137). Namun di lain sisi, hal itu menjadikan masyarakat kini tidak lagi bergantung pada informasi yang terdapat pada surat kabar dan media massa lainnya yang bersifat satu arah. Maka dalam hal ini masyarakat memiliki kendali atas mengakses informasi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
Sehingga sangat memungkinkan informasi yang diterima oleh masyarakat diberikan oleh masyarakat biasa juga. Perubahan teknologi komunikasi dan informasi juga secara perlahan memberikan keunggulan yang cukup menjanjikan bagi perkembangan pers. Karena keunggulannya tanpa batasan ruang dan waktu menjadikan media massa mengadopsi cara itu bagi keberlangsungan kegiatan jurnalistik.
Pada era modern ini, percepatan dan kecepatan telah mengikat seluruh aspek kehidupan manusia, bahkan termasuk jurnalisme. Kecepatan dan percepatan telah menyeret jurnalisme ke dalam pusaran kompetisi global (Iskandar, 2016:29). Karena dalam hal ini media online menuntut kecepatan dari sebuah informasi untuk kemudian diberikan kepada masyarakat. Sehingga berita yang dikemas oleh media online biasanya berita yang berjenis straight news dan soft news, karena telah menjadi karakteristiknya sendiri yaitu kecepatan informasi. Dimana pada awalnya hampir tidak mungkin mengemas sebuah berita dengan jenis indepth reportdikarenakan proses pengumpulan data dan informasinya yang memakan waktu banyak.
Berawal dari perkembangan teknologi yang semakin canggih berupa internet, perusahaan-perusahaan media kemudian melihat peluang yang cukup besar untuk memanfaatkan media online untuk menunjang distribusi beritanya (Widodo, 2013:2). Karena semakin hari semakin banyak media yang merintis portal online bagi beritanya, hal itu kemudian menjadi ajang bagi media untuk melakukan inovasi-inovasi terhadap karakter media yang mereka kelola. Sehingga disini terjadi pergeseran karakteristik awal media online, dimana pada awalnya media mengutamakan kecepatan berita, hingga kini menggunakan cara penyajian investigasi dan indepth report pada media online. Tujuan dari hal tersebut tidak lain adalah agar masyarakat dapat mengakses informasi secara mendalam mengenai sebuah isu.
Contohnya dapat dilihat pada media Tempo (https://investigasi.tempo.co/) dimana mereka telah menyediakan portal berita khusus yang menyajikan berita-berita investigasi terhadap publik. Selain kemudahan untuk mengaksesnya, kembali lagi kepada akidahnya dimana praktek jurnalistik yang berfokus pada internet ini juga dianggap dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Selain itu berita juga didukung oleh kelebihan media online dimana ia bersifat multimedia capability sehingga dapat menampilkan informasi dalam bentuk teks, audio dan audio secara bersamaan. Sehingga dapat menambah ketertarikan masyarakat dalam mengakses informasi secara online. Karakteristik media online yang pada awalnya lekat dengan kecepatan informasi kini tidak lagi berlaku pada portal investigasi tempo. Karena dalam melakukan peliputan berita-berita investigasi cenderung memakan waktu yang cukup lama.
Contoh lainnya juga dapat dilihat pada portal berita https://tirto.id/sebuah media online yang berfokus menyajikan berita dalam bentuk indepth report dan juga jurnalisme presisi. Tirto.id juga menyajikan video dokumenter berjenis jurnalisme investigasi yang dihadirkan secara online pada portal beritanya. Sehingga hal tersebut dapat menambah ketertarikan sebuah konten dan tetap dapat survive dalam kancah penyajian informasi bagi masyarakat. Dari contoh-contoh tersebut maka dapat disimpulkan bahwa jurnalisme online era kini semakin unggul jika dibandingkan dengan media tradisional. Karena pembaca kini dapat mengakses berbagai macam bentuk dan jenis informasi yang telah disediakan oleh media.
Tahapan perkembangan isi berita dalam media online menurut Pavlik (dalam Hadi, 2009:74) telah melewati tiga tahap yaitu: (1) surat kabar online pada awalnya hanya memindahkan versi cetaknya ke digital. Sehingga tidak terlihat perbedaan yang signifikan antara ciri-ciri media cetak dan media online. (2) media online telah melakukan inovasi-inovasi yang bersifat kreatif pada portalnya sehingga terdapat fitur-fitur seperti hyperlinks dan search engines yang bertujuan untuk memudahkan pembacanya dalam mengakses informasi sesuai kebutuhannya. (3) isi berita telah didesain secara khusus untuk media web sebagai wadah untuk komunikasi. Maka media memiliki wewenang untuk menentutkan standar jenis penyajian berita.
Namun pada akhirnya pergeseran tersebut merupakan cara bagi media untuk berinovasi dalam menyediakan informasi bagi masyarakat. Untuk dapat bertahan dalam ketatnya persaingan antar media, kini mereka berusaha sebisa mungkin menjaga kredibilitas dan akurasi pada informasinya. Sehingga kecepatan tidak selalu diutamakan pada jurnalisme online dewasa ini. Sehingga media itu sendiri harus dapat menjaga kepercayaan publik pula agar dapat tetap mendapatkan perhatian pembaca. Pesatnya perkembangan teknologi sendiri menjadi tuntutan bagi media hingga jurnalisme sendiri agar dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Maka sangat memungkinkan bahwa elemen-elemen yang terdapat pada media mainstream dan belum di implementasikan pada media online, suatu saat akan dapat diaplikasikan juga. Karena itu merupakan cara untuk berinovasi terhadap konten-konten yang nantinya akan dikonsumsi oleh masyarakat.
Manajemen Media 4: Struktur Organisasi Media Cetak

Berdasarkan Pasal 6 UU no. 40/1999 tentang Pers; Peran pers nasional, yakni:
· a. memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
· b. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan HAM serta menghormati bhinekaan
· c. mengembangkan pendapat umum berdasarkan infomasi yang tepat, akurat, dan benar
· d. melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
· e. memperjuangkan keadilan dan kebenaran
Penanggungjawab media
(Pasal 12 UU No 40/1999)
· a. Pers wajib mengumumkan nama, alamat, dan penanggungjawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan
· b. Yang dimaksud dengan penanggungjawab adalah penanggungjawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi
· c. Sewajarnya Penanggungjawab adalah Direktur Utama media tersebut
Organisasi media
· Perusahaan media biasanya dipimpin Direktur Utama, Direktur Produksi, Direktur Bisnis.
· Direktur Produksi membawahi (satu atau beberapa) Pemimpin Redaksi cetak atau kanal lain. Di sini Direktur Produksi berperan sebagai pengarah umum atas kebijakan perusahaan atau isyu liputan
· Pemimpin Redaksi mengarahkan liputan medianya, lewat rapat harian, supervisi, atau rapat mingguan.
· Rangkaian operasional redaksi sehari-hari ada di bawah komando Redaktur Pelaksana.
· Direktur Bisnis membawahi Manajer Iklan, Manajer Distribusi, Manajer Marcomm.
· Bidang pendukung seperti Administrasi, SDM, TI, biasanya langsung di bawah Direktur Utama, atau Pemimpin Umum bila jabatan ini ada.
Bidang Redaksi
· Pemimpin Redaksi memberi kebijakan umum dan arahan sesuai dengan visi misi (ideologi) perusahaan
· Arahan ini mewujudkan sikap media dalam menanggapi aliran informasi yang ada dalam/melalui berita yang dicetak atau disiarkannya.
· Kebijakan ini yang membuat sebuah suratkabar, radio, televisi, membuat berita yang berbeda satu sama lain meskipun berasal dari informasi yang sama.
· Arahan diterjemahkan jajaran redaksi, khususnya redaktur/produser yang memiliki orang lapangan
Operasional redaksi
· Operasional redaksi sehari-hari dipimpin Redaktur Pelaksana/General Manager News, yang mengkordinir mulai dari rencana peliputan sampai cetak atau siar.
· Redpel mengordinir Redaktur dan mengawasi liputan. Bila perlu langsung menugaskan liputan tertentu.
· Redaktur yang membawahi bidang, memberi tugas ke reporter. Selain dari agenda, info berasal dari usul wartawan atau masyarakat.
· Di media elektronik ada fungsi kordinator liputan yang memberi penugasan dan menerima berita
Alur berita cetak
· Berita yang ditulis reporter dikirimkan ke Redaktur langsung di kantor ataupun melalui email
· Editor menyunting (memeriksa 5W1H, mengecek akurasi, menambah, mengurangi), memberi judul, menempatkannya di kolom/halaman yang disiapkan.
· Halaman diperiksa penyunting atau langsung ke Redaktur Pelaksana (atau Wakil), untuk mendapat pengesahan. Kalau salah, dikembalikan.
· Halaman yang sudah diacc Redpel, diteruskan ke Bagian Produksi. Berlanjut ke percetakan.
Media non cetak
· Di media online, redaktur (kanal, rubrik) menerima berita, mengedit, lalu mengupload setelah memberi foto, grafik, berita terkait, link dst.
· Tidak ada deadline tertentu, prinsipnya mengirim di kesempatan pertama. Satu agenda/topik bisa upload berkali-kali (update news) tergantung nilai beritanya
· Di media televisi, penugasan dan penerimaan berita ada di korlip, yang menawarkan berita ke produser. Bila news value oke, masuk rundown, lalu berita diedit, diberi ilustrasi gambar, dibacakan presenter.
· D media radio prosesnya sama dengan televisi, beda adalah ilustrasi berupa suara (kutipan)
· Alur berita media elektronik: Rapat pagi, penugasan liputan langsung dan tak langsung, menerima berita, menetapkan slot yang diisi, proses editing dan ilustrasi gambar dan atau suara, lalu disiarkan
· Ralat di media cetak, di penerbitan berikutnya. Di media elektronik, di kesempatan pertama. Di media online, kesempatan pertama, dengan mengacu pada berita yang dikoreksi.
Pers sebagai lembaga ekonomi
· Pers adalah badan usaha, yang harus dikelola dengan manajemen yang baik agar dapat hidup, tumbuh, dan berkembang.
· UU no 40/1999 menyebutkan pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi (Pasal 3 ayat 2), selain berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
· Yang dimaksudkan lembaga ekonomi adalah badan usaha yang didirikan untuk meraih keuntungan sebagaimana perusahaan pada umumnya.
Manajemen modern
· Prinsip lembaga ekonomi adalah perusahaan harus tumbuh, berkembang, tidak sekadar bertahan hidup.
· Artinya ada target pertumbuhan: ke atas, ke samping, yang didukung semua unsur di organisasi.
· Semua jenis media: suratkabar, majalah, radio, televisi, digital, berusaha melakukan itu.
· Suratkabar, punya anak, web. Majalah mengambil atau membuat brand baru. Televisi akuisisi, bikin grup. Radio, bikin grup. Digital, buat liputan daerah.
· Terjadi kesatuan multi platform, multi channel
Memicu masalah
· Muncul ketegangan antara redaksi dan bisnis.
· Jurnalis berpegang pada fungsinya. Kontribusi dari redaksi: berita yang informatif, mendidik, menarik. Terwujud dari audiens, oplah, marketshare, yang dicapai media ybs.
· Bisnis menilai, percuma bagus kalau tidak untung. Oplah tidak mencerminkan uang. Harus ikut tren berita sebagai pendukung bisnis.
· Perlu penegasan media adalah bisnis berita dengan nilai, filosofi: kepentingan publik, tapi juga untung
Sinergi menguntungkan
· Pimpinan harus membuat aturan jelas bagi redaksi dan bisnis, ada mekanisme untuk atasi konflik agar:
· Di satu sisi idealisme warfont: 7.0pt 'Times New Roman';/spanfont: 7.0pt 'Times New Roman';/spantawan tetap terjaga sesuai koridor etik, kepentingan masyarakat sehingga audiens mengakui kredibilitas media
· Di sisi lain bisnis terbantu: mutu karya jurnalistik membuat pengiklan percaya dan bergengsi sebagai wadah iklan produknya.
· Tidak mudah. Kuncinya: komunikasi antarkaryawan dan transparansi. Juga insentif yang terukur.
Contoh Job Desc Redpel Cetak
Tugas Pokok
Ukuran Keberhasilan
1.Menjalin dan membina lobi pejabat
2.Menulis berita, feature
3.Menulis tajuk rencana
4.Membuat rencana kerja dan anggaran
5.Mengatur penugasan redaksi
6.Menyeleksi tulisan, foto, mengedit
7.Buat dan evaluasi target kerja redaksi
8.Menilai kinerja editor dan wartawan
Lobi dukung kelancaran tugas
tulisan tematis Tulisan sesuai standar media
Tajuk mencerminkan media
Rencana dan anggaran disetujui
Penugasan editor dan wartawan jelas
Tulisan, foto, sesuai standar dan kode etik
Target dipahami jajaran redaksi
Editor dan wartawan mengetahui prestasinya
Contoh Job Desc Redaktur
Tugas Pokok
Ukuran Keberhasilan
1.Menjalin dan membina lobi narasumber
2.Menulis berita, feature, tulisan tematis
3.Membuat rencana kerja dan anggaran
4.Mengatur penugasan dan wartawan
5.Menyeleksi tulisan, foto, mengedit
6.Mengendalikan, awasi penugasan dan proses buat dan muat berita
7.Menilai kinerja desk dan stafnya
8.Mengordinasi desk dg unit lain
9.Menganalisis dan atas persoalan desk
10. Membina dan kembangkan wtw
Lobi di bidangnya luas dan kuat
Tulisan sesuai standar
Ren, anggaran disetujui Redpel
Tugas di desk dan wartawan jelas
Tulisan, foto, sesuai standar dan KEJ
Wtw jalankan tugas, hlm diisi brtfoto
Staf mengetahui kinerjanya
Kerjasama dg unit lain baik
Problema diatasi dg cepat dan tepat
Wartawan di desk bekerja maksimal dan berkembang
Contoh Job Desc Reporter
Tugas Pokok
Ukuran Keberhasilan
Membuat berita/foto sesuai penugasan
Menjalin dan membina lobi narasumber
Menulis berita/feature/esei foto
Membantu pengembangan media
Menyampaikan gagasan, usul
Mencari, menggali, mengolah data
Berita/foto sesuai standardan kode etik
Punya narasumber luas di bidangnya
Tulisan/esei foto sesuai standar media
Media berkembang di segala bidang
Aktif dalam rapat yang diikuti
Data tulisan lengkap dan akurat
Bidang bisnis
· Direktur Bisnis membuat rencana anggaran dan biaya (RAB), pemasukan dan pengeluaran, berdasarkan pencapaian tahun lalu
· Pemasukan biasanya dari iklan dan distribusi, ada juga yang dari event (sebagai EO)
· Pengeluaran terbesar untuk biaya rutin karyawan, operasional, dan pengembangan
· Dalam perencanaan harus ada rapat bersama untuk menyamakan persepsi tentang pemasukan dan juga biaya-biaya. Misalnya potensi iklan, gaji dan inflasi.
Bidang Iklan
· Manajer Iklan diberi target berdasarkan pencapaian tahun sebelumnya dan proyeksi tahun ini. Dan juga buat posisi media dibanding bidang sejenis, nasional.
· Belanja iklan media 2011 Rp 80,2 T, tahun 2012 diprediksi naik sekitar 14% menjadi Rp 90 T.
· Tahun 2011, TV meraih sekitar 60% (Rp 50 T), Cetak 33% (sekitar Rp 27), lalu sisanya (7%) radio dan online.
· Telekomunikasi terbesar dengan Rp 1,2 T, diikuti susu dan otomotif.
· Manajer Iklan menjabarkan target perusahaan ke target bagian, lalu ke target individu, seperti Account Executive
· Bidang iklan: displai, baris, advetorial, space, dll
· Target biasanya dibuat dari pencapaian tahun sebelumnya plus 20%.
· Iklan dapat meminta dukungan dari promosi dan redaksi, untuk melancarkan tugas dalam mengejar target.
Contoh Tugas Manajer Iklan
Tugas Pokok
Ukuran Keberhasilan
Merancang, laksanakan pemasaran iklan
Memastikan iklan sesuai kode etik
Merancang sistem dan prosedur kerja
Negosiasi bisnis sesuai kewenangannya
Menyampaikan info bisnis ke manajemen
Merekomendasikan penerimaan dan mutasi
Menilai kinerja tenaga periklanan
Kordinasi kerja dengan unit lain
Program mendorong kenaikan omzet
Iklan termuat sesuai kode etik
Sistem , prosedur kerja efektif, efisien
Negosiasi untungkan perusahaan
Informasi yang disampaikan relevan
Rekomendasi dan mutasi tepat dan baik
Bawahan tahu prestasi kerjanya
Kerjasama dengan unit lain efektif
Bidang Distribusi
· Untuk cetak, bagian distribusi juga bertugas memberi pemasukan. Media lain? Melalui hak cipta, hak edar.
· Bagian Distribusi bertugas menyebarkan media seluas-luasnya, sesuai target segmen
· Dapat memberi masukan ke redaksi, bila ada umpan balik untuk berita dari pembaca
· Dapat memberi masukan ke promosi dalam hal penetrasi wilayah baru
Rabu, 03 Oktober 2018
Manajemen Media 2: Organisasi Media dan Pengaruh Eksternal
Ada banyak sekali definisi organisasi. Max Weber mengatakan bahwa organisasi adalah suatu kerangka hubungan yang berstruktur yang di dalamnya berisi wewenang,tanggung jawab, dan pembagian kerja untuk menjalankan fungsi tertentu. Stephen P.Robbins menyatakan bahwa organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi,yang bekerja atas dasar yang terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Sementara itu, kita dapat mendefinisikan organisasi media sebagai sebuah organisasi yang bekerja untuk pengelolaan dan produksi media. Pada umumnya di industri media, organisasi kerjanya dibagi menjadi dua yaitu divisi perusahaan dan divisi redaksi. Divisi perusahaan mengelola perusahaan media secara umumnya, termasuk di dalamnya mengenai sumber daya manusia dan keuangan. Sementara divisi redaksi mengelola kegiatan produksi media, mulai dari perencanaan peliputan, pembuatan/pengemasan, dan penyebarluasan.
Sama seperti organisasi pada umumnya, organisasi media juga menerapkan fungsi manajer. Empat fungsi dasar manajerial yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), memimpin (leading), dan pengendalian (controlling). Proporsi untuk masing-masing fungsi itu tidak sama satu dengan yang lainnya,tergantung pada tingkatan pekerjaan yang dilakukan.
Untuk manajer puncak di industrimedia seperti pemimpin redaksi/wakil pemimpin redaksi tentu memiliki deskripsi kerjadan alokasi waktu kerja yang berbeda dengan manajer tingkat menengah seperti produser eksekutif, koordinator liputan, dan sebagainya. Namun demikian, tanpa memandang hierarkinya, orang yang bertindak sebagai manajer melakukan empat fungsi manajerial itu secara sekaligus.
Dalam organisasi media dikenal sebuah istilah Newsroom yang mengarah pada sebuah struktur yang beroperasi di dalam organisasi media. Struktur ini mempengaruhi cara berita diproduksi sebab struktur mempengaruhi apa yang dilakukan jurnalis, apa yang ditulis editor, dan apa yang akan diterbitkan. Di dalam newsroom ini, nilai-nilai berita dalam suatu media dipertaruhkan. Di dalam newsroom ini pula, kebijakan redaksional suatu media dibuat dan diterapkan.
Newsroom menjadi identitas penting dalam organisasi media, sebab pusat kegiatan produksi jurnalistik bermula dari sini. berkoordinasi dengan editor untuk menyediakan batas ruang untuk pengiklan dan untuk jumlah karakter berita (panjang-pendeknya tulisan).
Politisasi Lembaga Media Komunikasi
Lembaga media komunikasi dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang sekaligus bertalian erat dengan sistem politik. Dari situ kemudian lahir sebuah kajian yang oleh David Ricardo dan Adam Smith disebut sebagai ekonomi politik. Ekonomi politik ini awalnya dipengaruhi oleh pemikiran Marxis tentang ekonomi, yang mempelajari basis ekonomi masyarakat yang menentukan struktur, dan akibatnya mempengaruhi ruang-ruang budaya dan politik dalam masyarakat; tenaga kerja dan pembagian kerja, kepemilikan serta mode produksi.
Pada tahun 1970-an, ekonomi politik media dikembangkan dalam kerangka Marxis yang lebih eksplisit. Ekonomi politik media lebih tertarik mempelajar ikomunikasi dan media sebagai komoditas yang dihasilkan oleh industri kapitalis.
Media dilihat sebagai entitas ekonomi dengan peranan langsung sebagai pencipta nilai surplus dan peranan tidak langsung sebagai pencipta nilai surplus di dalam sektor produksi komoditas lainnya (seperti iklan misalnya).
Lalu pada 1990, beberapa ekonom politik membuat pemikiran ulang mengenai ekonomi politik, terutama karena adanya restrukturisasi politik dan ekonomi global.Ekonomi politik dipikirkan ulang dalam hal komodifikasi (commodification) yakni perubahan orientasi nilai suatu barang/jasa dari nilai guna menjadi niali tukarnya di pasar, spasialisasi (spatialization) yakni peningkatan batas ruang dan waktu (ekspansi), dan strukturasi (structuration) yakni berkaitan dengan hubungan antara gagasan agensi, proses sosial, dan praktik sosial.
Ekonomi politik juga dibahas dalam kaitannya dengan kajian budaya dan kajian kebijakan.Berbagai kepentingan tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil kerja lembaga media untuk memperoleh keuntungan, sebagai akibat dari adanya kecenderungan monopolistis dan proses integrasi secara vertikal maupun horizontal.
Seperti dikemukakan Littlejohn (1999), isi media merupakan komoditas untuk dijual di pasar, dan informasi yang disebarkan dikendalikan oleh apayang ada di pasar. Sistem ini mengarah pada tindakan konservatif dan cenderung menghindari kerugian. Pada akhirnya ini membuat media memproduksi informasi tertentu menjadi dominan sementara yang lainnya terbatas.
Konsekuensi keadaan seperti ini tampak dalam wujud berkurangnya jumlah sumber lembaga media yang bebas, terciptanya konsentrasi pada pasar besar,munculnya sikap bodoh terhadap calon khalayak pada sektor kecil (Arianto, Ekonomi Politik Lembaga Media Komunikasi, 2011 h. 5).
Kita pun dapat melihat kini konglomerasi media yang tercipta didasari dengan adanya kepemilikan modal, yakni pemikiran berusaha melakukan ekspansi sebagai penyebaran kekuasaan ekonomi sekaligus menuangkan pengaruh politiknya. Sebut saja tiga dari sekian media besar diIndonesia saat ini: MNC Media Group (Harry Tanoesoedibjo), Jawa Pos Group (Dahlan Iskan), dan Kompas Gramedia (Jakob Oetama). Mereka adalah salah satu bentuk nyatadari kegiatan ekspansi perusahaan dengan menciptakan suatu konvergensi media, yang kemudian mengarah pada terkonsentrasinya kepemilikan media.
Sikap bodoh itu sendiri penulis artikan sebagai dampak dari hegemoni. Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa di sini memiliki arti luas, tidak terbatas pada penguasa negara (pemerintah).
Hegemoni bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense) oleh kelompok yang didominasi.
Konsep hegemoni ini lahir dari paradigma kritis yang menurut Ishadi(2014: 9) memandang media adalah sarana bagi kelompok dominan untuk mengontrol kelompok yang tidak dominan, bahkan meminggirkan mereka dengan menguasai dan mengontrol media.Menurut Littlejohn (2009: 388), hegemoni bukanlah gerak kekuasaan yang kasar, namun sebuah rencana yang “dikembangkan”.
Dalam pandangan mazhab kritis,terutama dalam studi-studi yang dikembangkan oleh Centre for Contemporary CulturalStudies, Bringmiham University, media massa selalu dirasakan sebagai alat yang “powerfull” dan ada ideology dominan di dalamnya. Ini mengingatkan kita akan salahsatu teori komunikasi massa, yaitu teori peluru atau jarum hipodermik.
Teori yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa, dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Asumsi teori hegemoni media selalu diarahkan pada aspek-aspek yang menyangkut ideologi organisasi media itu sendiri, bentuk ekspresi, cara penerapan,serta mekanismenya dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kepatuhan kaum pekerja (wartawan dan karyawan) sebagai sasaran dari pemilik industri media.
Untuk menghindari kebodohan atau hegemoni itu, publik sebagai konsumen media harus memahami struktur organisasi yang ada di balik media tersebut.Kemampuan menggunakan media (literasi media) diperlukan agar khalayak tidak menerima begitu saja segala informasi yang tersedia, akan tetapi harus mampu memilah dan menelaah pesan-pesan yang ditampilkan oleh media. Tidak hanya untuk menjadi konsumen informasi yang cerdas, tetapi juga untuk memahami hakikat dan fungsi media massa itu sendiri dalam konteks kehidupan sosial dan bermasyarakat.
Pendekatan jurnalisme dan organisasi media dalam Global Journalism Research
mempunyai empat kajian organisasi media, yang meliputi perbandingan kerja diorganisasi media, identifikasi dan analisis kerja jurnalis di newsroom, identifikasi dan analisis alur komunikasi, dan analisis interaksi antar departemen dalam organisasi media.
Meskipun pada dasarnya setiap organisasi memiliki fungsi yang sama, tetapi cara kerja di dalamnya akan berbeda, tergantung pada bidang apa mereka bekerja. Seperti yang sempat disinggung di atas, organisasi media mempunyai divisi redaksi yang umumnya terdiri atas pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, koordinator liputan, redaktur, wartawan, editor, dan seterusnya. Pimpinan redaksi bertanggung jawab terhadap kebijakan redaksional sehari-hari, yang mewujudkan secara riil kebijakan dasar perusahaan pers yang bersangkutan dalam produk redaksional mereka.
Redaktur pelaksana bertugas mengoordinasikan, mengawasi,menilai, mengkoreksi, serta menyempurnakan pekerjaan redaksional para redaktur. Selanjutnya redaktur memberikan tugas-tugas peliputan atau kerja jurnalistik lainnya kepada wartawan berdasarkan rubrik masing-masing.Tidak seperti organisasi pada umumnya. Organisasi media massa (pers) bekerja sepanjang waktu, termasuk juga pada hari libur. Ini dikarenakan media massa harus terus menjalankan fungsinya sebagai pemberi informasi (to inform). Informasi merupakan kebutuhan manusia sehari-hari yang dikonsumsi kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja. Selain itu media pers juga mempunyai peran yang penting dalam keberpihakannya pada masyarakat. Komitmen kepada warga (citizen) lebih besar ketimbang egoism profesional (Kovach, 2003:59)
Masyarakat tentu menginginkan informasi yang aktual setiap hari. Untuk itu jugalah pers hadir setiap saat.Selanjutnya, newsroom menyusun informasi. Yang bertugas menyusun informasi(berita) adalah bagian redaksi (editorial department), yakni para wartawan, mulai dari pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur desk, reporter, fotografer, koresponden,hingga kontributor.
Di dalam newsroom, hasil peliputan (news gathering) yang dilakukan oleh wartawan dipertimbangkan menurut kebijakan redaksional media. Disinilah ideologi yang dianut oleh media menjadi landasan untuk menentukan berita yang akan diterbitkan; aspek apa yang ditonjolkan, bagian mana yang ditinggalkan, dan seperti apa berita tersebut dikemas dan dikomunikasikan. Proses awal penyusunan agenda media (agenda setting) dimulai di sini.
Senin, 01 Oktober 2018
Perkembangan ICT 3: Bentuk-Bentuk Teknologi Informasi Komunikasi

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memuat semua teknologi yang berhubungan dengan penanganan informasi. Penanganan ini meliputi pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Jadi, TIK adalah teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi.
Ditinjau dari susunan katanya, teknologi informasi dan komunikasi tersusun dari 3 (tiga) kata yang masing-masing memiliki arti sendiri. Kata pertama, teknologi, berarti pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Istilah teknologi sering menggambarkan penemuan alat-alat baru yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik.
Kata kedua dan ketiga, yakni informasi dan komunikasi, erat kaitannya dengan data. Informasi berarti hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian sekelompok data yang memberi nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara keduanya.
Jadi dapat di sumpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dan proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya
Mengenal Peralatan TIK
a. Media Komunikasi Tradisional (Kuno)
1). Asap
Media komunikasi ini tergolong unik dan sangat populer digunakan oleh bangsa Indian di Amerika. Asap dapat digunakan untuk mengirimkan informasi rahasia kepada teman maupun lawan.
2). Kentongan
Pada masa kerajaan, kentongan digunakan untuk menyampaikan pesan dan perintah dari sang raja kepada rakyatnya. Media komunikasi tradisional ini khususnya di daerah pedesaan yang digunakan sebagai sarana ronda malam. Ada juga kentongan yang bentuknya cukup besar atau yang sering disebut ”bedug” digunakan oleh masyarakat sebagai penanda waktu sholat tiba Dalam penggunaannya, kentongan dipukul dengan irama yang berbedabeda sesuai kejadian yang akan dan sedang terjadi. Misalnya, tanda kentongan yang menandakan adanya kebakaran rumah, adanya bencana banjir, adanya pencurian, atau akan adanya gerombolan pasukan lawan yang datang menyerang dimasa peperangan kerajaan zaman dahulu.
3). Prasasti
Prasasti merupakan sumber dokumen tertulis yang orisinil dan pasti terjamin keasliannya sebagai peninggalan masa lalu.
4). Daun Lontar
Daun lontar di pakai untuk menulis naskah dan kerajinan. Naskah dari lontar banyak ditemukan di Sunda, Jawa, Bali, Madura, Lombok, dan Sulawesi Selatan.
5). Bereguh
Merupakan alat komunikasi tradisonal aceh yang penggunaannya dengan cara ditiup.
6). Kulkul
Digunakan oleh masyarakat bali untuk mengumpulkan warga, cara penggunaannya dengan dipukul seperti kentongan.Kulkul ada 4 jenis, yaitu Kulkul Dewa, Kulkul Bhuta, Kulkul Manusa, Kulkul Hiasan.
Kata informasi memiliki arti tersendiri dan dalam penerapannya membutuhkan alat atau hardware yang spesifik. Begitu juga dengan kata komunikasi. Sekarang kita mengenal begitu banyak alat komunikasi yang membuat jarak tidak lagi menjadi masalah selama alat komunikasi tersebut tersedia. Informasi dapat ditayangkan atau disampaikan ke suatu tujuan yang jauh menggunakan peralatan-peralatan di bawah ini.
Komputer, yaitu alat yang berguna untuk mengolah data menjadi informasi menurut prosedur yang telah dirumuskan sebelumnya.
Proyektor LCD (Liquid Crystal Display), yaitu alat untuk menayangkan informasi yang berasal dari komputer atau media informasi lain seperti DVD Player.
OHP (Over Head Projector), yaitu alat untuk menayangkan informasi statis yang tertulis pada plastik transparansi.
Radio, yaitu alat penerima informasi yang berasal dari stasiun pemancar berupa gelombang elektromagnet yang membawa informasi suara.
Televisi, yaitu alat penerima informasi yang berupa gambar dan suara. Televisi berasal dari kata tele (jauh) dan vision (tampak/visual).
Internet, yaitu hubungan antar komputer dalam suatu jaringan global yang memungkinkan setiap komputer saling bertukar informasi.
GPS (Global Positioning System), yaitu alat informasi berfungsi menentukan letak, arah atau kecepatan benda yang berada di permukaan bumi.
Faximile, yaitu alat untuk mengirim dan menerima dokumen melalui jalur telepon. Dokumen yang dikirim dengan faximile sama persis dengan dokumen asli.
Satelit komunikasi, yaitu benda buatan manusia yang diletakkan di ruang angkasa untuk keperluan telekomunikasi.
Telepon, yaitu alat komunikasi berguna untuk mengirim data suara melalui sinyal listrik.
Handphone atau telepon seluler, yaitu alat komunikasi bergerak untuk mengirim data suara. Telepon seluler menggunakan gelombang elektromagnet sebagai media penghantar.
Modem, yaitu perangkat keras yang berfungsi mengubah sinyal digital menjadi sinyal listrik yang dapat merambat melalui telepon, dan sebaliknya. Modem merupakan perangkat penting untuk mengakses Internet.
Sejarah Teknologi Informasi
a. Masa Pra-Sejarah (…s/d 3000 SM)
Pada masa pra-sejarah teknologi informasi digunakan sebagai sistem untuk pengenalan bentuk-bentuk yang ingin dikenali. Informasi yang didapatkan kemudian digambarkannya pada dinding-dinding gua atau tebing-tebing bebatuan. Pada masa pra-sejarah sudah dimiliki kemampuan mengidentifikasi benda-benda yang ada disekitar lingkungan dan mepresentasikannya dalam berbagai bentuk yang kemudian dilukis pada dinding gua tempat tinggal mereka.
Mengkomunikasikan informasi dengan gambar/lukisan menjadi pilihan yang baik karena kemampuan berbahasa pada waktu itu hanya berkisar pada suara dengusan dan isyarat tangan. Perkembangan selanjutnya mereka mulai menggunakan alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang, terompet yang terbuat dari tanduk binatang, isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap keadaan tertentu seperti keadaan bahaya.
b. Masa Sejarah (3000 SM s/d 1400-an M)
Pada masa sejarah, teknologi informasi berkembang pada masayarakat kalangan atas seperti para kepala suku atau kelompok, digunakan pada kegiatan tertentu seperti upacara, dan ritual. Teknologi informasi belum digunakan secara masal seperti yang kita kenal sekarang ini.
c. Masa Tahun 1900-an
Tahun 1923 Zvorkyn menciptakan tabung TV (Televisi) yang pertama. Tahun1940 dimulainya pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang informasi pada masa perang dunia II yang dipergunakan untuk kepentingan pengiriman dan penerimaan dokumen-dokumen militer yang disimpan dalam bentuk magnetic tape. Tahun 1945 Vannevar Bush mengembangkan sistem pengkodean menggunakan hypertext. Tahun 1946 komputer digital pertama didunia yaitu ENIAC I dikembangkan. Tahun 1948 para peneliti di Bell Telephone mengembangkan Transistor. Tahun 1957 Jean Hoerni mengembangkan transistor planar. Teknologi ini memungkinkan pengembangan jutaan bahkan milyaran transistor dimasukan ke dalam sebuah keping kecil kristal silikon.
USSR (Rusia pada saat itu) meluncurkan sputnik sebagai satelit bumi buatan yang pertama yang bertugas sebagai mata-mata. Sebagai balasannya Amerika membentuk ARPA (Advance Research Projects Agency) di bawah kewenangan Departemen Pertahanan Amerika untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dalam bidang militer. Tahun 1962 Rand Paul Barand, dari perusahaan RAND, ditugaskan untuk mengembangkan suatu sistem jaringan desentralisasi yang mampu mengendalikan sistem pemboman dan peluncuran peluru kendali dalam perang nuklir.
Tahun 1969 sistem jaringan yang pertama dibentuk dengan menghubungkan 4 nodes (titik), antara University of California, SRI (Stanford), University California of Santa Barbara, dan University of Utah dengan kekuatan 50Kbps. Tahun 1972 Ray Tomlinson menciptakan program e-mail yang pertama. Tahun 1973 – 1990 istilah internet diperkenalkan dalam sebuah paper mengenai TCP/IP (Transmission Control Protocol) kemudian dilakukan pengembangan sebuah protokol jaringan yang kemudian dikenal dengan nama TCP/IP yang dikembangkan oleh grup dari
FUNGSI TEKNOLOGI INFORMASI
Fungsi Teknologi informasi sebagai Penangkap (Capture)
Fungsi Teknologi Informasi sebagai Pengolah (Processing)
Fungsi Teknologi Informasi sebagai Menghasilkan (Generating)
Fungsi Teknologi Informasi sebagai Penyimpan (storage)
Fungsi Teknologi Informasi sebagai Pencari Kembali (Retrifal)
Fungsi Teknologi Informasi sebagai Transmisi (Transmission)
TUJUAN TEKNOLOGI INFORMASI
Tujuan Teknologi Informasi adalah untuk memecahkan suatu masalah, membuka kreativitas, meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam melakukan pekerjaan. Jadi dapat dikatakan karena dibutuhkannya pemecahan masalah, membuka kreativitas dan efisiensi manusia dalam melakukan pekerjaan, menjadi penyebab atau acuan diciptakannya teknologi informasi. Dengan adanya teknologi informasi membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien.
Rabu, 26 September 2018
Perkembangan ICT 2: Teknologi Informasi Komunikasi Lintas Jaman
Pengertian Komunikasi
Josef A.Devito, 2000 : “Komunikasi merupakan proses penyampaian dan penerimaan pesan diantara dua orang atau kelompok kecil dengan efek dan feed back langsung”.
Richard.H.blake, 2000 : “Komunikasi antara dua orang atau lebih dalam jarak fisik dengan kelima indra dapat digunakan dan feed back langsung didalamnya”.
Telekomunikasi Komunikasi
Teknologi merupakan teknologi elektronika yang mampu mendukung percepatan dan meningkatkan kwalitas informasi (Komunikasi) sehingga arus percepatan informasi (komunikasi) tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.
Everett M Rogers, 1993 : “Teknologi dirancang untuk menggerakan peralatan guna mengurangi ketidak pastian dalam hubungan sebab akibat, termasuk didalamnya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki”.
Teknologi Membantu Sifat Komunikasi
komunikasi digunakan untuk manusia yang selalu ingin lambang-lambang verbal, teknologi komunikasi digunakan untuk mengatasi masalah masalah jarak ruang dan waktu dalam proses pengiriman dan lambang-lambang untuk .
Komunikasi dilakukan melalui lambang-lambang isyarat yang kemudian berkembang dengan
Menyampaikan keinginannya mengetahui keinginan orang lain.
Saat ini perkembangan teknologi komunikasi
BERBICARA TEKNOLOGI KOMUNIKASI BERARTI TAK AKAN BISA MELEPASKAN DIRI DARI TEKNOLOGI INFORMASI:
Suatu teknologi yang digunakan “untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan caracara tertentu untuk menghasilkan suatu informasi yang lebih berkualitas”.
Informasi yang berkualitas berarti : “informasi yang relevan, akurat, tepat waktu sehingga bisa digunakan untuk pengambilan sebuah keputusan
AGOENG NOEGROHO,2010: “ TEKNOLOGI KOMUNIKASI SELALU TERDIRI DARI DUA ASPEK, YAITU :
1. Objek atau material fisik (hardware)
2. Dasar Informasi untuk mengoprasikan hardware (software).
Teknologi komunikasi juga diartikan sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai-nilai sosial dimana individu-individu mengumpulkan, memproses, dan tukar menukar informasi dengan indvidu lainnya. (Roger,1993)
PADA TAHAP INI TEKNOLOGI KOMUNIKASI YANG ADA PADA MANUSIA HANYALAH ALAT-ALAT KOMUNIKASI YANG ADA PADA TUBUHNYA.
Peroses komunikasi berlangsung dengan menggunakan bahasa isyarat (Body language), mereka belum mengenal akan bahasa verbal apalagi alat bantu lain dalam berkomunikasi
Dalam kehidupan sosialnya mereka hidup komunikasi berlangsung hanya dalam kelompoknya saja (inter kelompok) dan belum terjadi komunikasi antar kelompok.
Pada tahap ini komunikasi tidak terbatas hanya pada anggota kelompoknya akan tetapi juga sudah meluas kepada kelompok yang lainya (antar kelompok). Walaupun masih sangat sederhana mereka sudah mulai mengenal akan hiudp bermasyarakat, bercocok tanam dan komunikasi masih berlangsung selain dengan menggunakan lambang-lambang verbal, pada tahap ini manusia juga sudah mulai mengenal lambang-lambang visual.
Lambang-lambang visual berupa gambar-gambar binatang yang peninggalannya banyak ditemukan di gua-gua, gua Lascaux (Prancis) Gua Galtamira Arana (Spanyol), pada tahap ini peradaban komunikasi mulai selangkah lebih maju, sistem kemasyarakatan mulai teratur.
Komunikasi dilakukan melalui lambang-lambang isyarat yang kemudian berkembang dengan
Menyampaikan keinginannya mengetahui keinginan orang lain.
Saat ini perkembangan teknologi komunikasi
BERBICARA TEKNOLOGI KOMUNIKASI BERARTI TAK AKAN BISA MELEPASKAN DIRI DARI TEKNOLOGI INFORMASI:
Suatu teknologi yang digunakan “untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan caracara tertentu untuk menghasilkan suatu informasi yang lebih berkualitas”.
Informasi yang berkualitas berarti : “informasi yang relevan, akurat, tepat waktu sehingga bisa digunakan untuk pengambilan sebuah keputusan
AGOENG NOEGROHO,2010: “ TEKNOLOGI KOMUNIKASI SELALU TERDIRI DARI DUA ASPEK, YAITU :
1. Objek atau material fisik (hardware)
2. Dasar Informasi untuk mengoprasikan hardware (software).
Teknologi komunikasi juga diartikan sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai-nilai sosial dimana individu-individu mengumpulkan, memproses, dan tukar menukar informasi dengan indvidu lainnya. (Roger,1993)
PADA TAHAP INI TEKNOLOGI KOMUNIKASI YANG ADA PADA MANUSIA HANYALAH ALAT-ALAT KOMUNIKASI YANG ADA PADA TUBUHNYA.
Peroses komunikasi berlangsung dengan menggunakan bahasa isyarat (Body language), mereka belum mengenal akan bahasa verbal apalagi alat bantu lain dalam berkomunikasi
Dalam kehidupan sosialnya mereka hidup komunikasi berlangsung hanya dalam kelompoknya saja (inter kelompok) dan belum terjadi komunikasi antar kelompok.
Pada tahap ini komunikasi tidak terbatas hanya pada anggota kelompoknya akan tetapi juga sudah meluas kepada kelompok yang lainya (antar kelompok). Walaupun masih sangat sederhana mereka sudah mulai mengenal akan hiudp bermasyarakat, bercocok tanam dan komunikasi masih berlangsung selain dengan menggunakan lambang-lambang verbal, pada tahap ini manusia juga sudah mulai mengenal lambang-lambang visual.
Lambang-lambang visual berupa gambar-gambar binatang yang peninggalannya banyak ditemukan di gua-gua, gua Lascaux (Prancis) Gua Galtamira Arana (Spanyol), pada tahap ini peradaban komunikasi mulai selangkah lebih maju, sistem kemasyarakatan mulai teratur.
MANUSIA MULAI MENGENAL AKAN SISTEM BANGUNAN, PERAIRAN, PERTANIAN DAN JUGA Pada SISTEM tahap KOMUNIKASI ini manusia YANG BAIK. mulai memformulasikan hurup-hurup sebagai lambang visual.
Huruf sebagai lambang komunikasi pada tahap ini disebut “Ideograf”, yakni satu bentuk huruf yang didalamnya mencakup pengertian 1 ide,atau 1 huruf mempunyai lebih dari satu makna
Salah satu contoh huruf ideograf yang masih ada hingga saat ini adalah huruf Cina.
Huruf sebagai lambang komunikasi pada tahap ini disebut “Ideograf”, yakni satu bentuk huruf yang didalamnya mencakup pengertian 1 ide,atau 1 huruf mempunyai lebih dari satu makna
Salah satu contoh huruf ideograf yang masih ada hingga saat ini adalah huruf Cina.
Selain itu, pada tahap ini peradaban manusia kebudayaannya sudah tinggi, disamping hal-hal tersebut diatas, manusia juga sudah menggunakan bahasa lisan sebagai alat komunikasi primer secara sempurna.
Tahap ini manusia dapat menyusun abjad huruf seperti apa yang kita kenal saat ini. Abjad yang tersusun secara teratur saat ini berasal dari tulisan yang tidak berabjad secara teratur yang diketemukan Situs dipulau Kreta, pusat kebudayaan Minea kuno.
seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan manusia muncullah apa yang kita kenal dengan istilah “Alphabet”. Yakni susunan symbol yang menggambarkan unsur-unsur suara
CIKAL BAKAL MEDIA MASSA, BERNAMA ”ACTA DIURNA
Tahap ini manusia dapat menyusun abjad huruf seperti apa yang kita kenal saat ini. Abjad yang tersusun secara teratur saat ini berasal dari tulisan yang tidak berabjad secara teratur yang diketemukan Situs dipulau Kreta, pusat kebudayaan Minea kuno.
seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan manusia muncullah apa yang kita kenal dengan istilah “Alphabet”. Yakni susunan symbol yang menggambarkan unsur-unsur suara
CIKAL BAKAL MEDIA MASSA, BERNAMA ”ACTA DIURNA
Acta Diurna diperkenalkan oleh Yulius Caesar pada 100-44 SM. Acta Diurna berupa papan tempel yang didalamnya ditempelkan informasi-informasi aktual yang perlu diketahui oleh masyarakat.
Masa ini adalah masa antara runtuhnya kekeaisaran Romawi hingga ditemukannya mesin uap tahun 1750 (revolusi industri). Pada masa tersebut Eropa dikuasai bangsa Babar sehingga tidak ada catatan tentang perkembangan teknologi komunikasi. Hanya saja di Cina ditemukan bahwa tahun 1190 telah ditemukan tulisan-tulisan dalam bentuk buku.
Munculnya pabrik kertas muncul pula surat kabar yang ditulis dengan tulisan tangan seperti Strange News di Ingris, Gazetta di Itali, Nova di Perancis.
PADA TAHUN 1440 seorang bangsa Jerman bernama Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak yang menjadi tonggak berlakunya komunikasi menggunakan simbol-simbol tercetak. Tahun 1452 Gutenberg telah menggunakan plat metal untuk sistem mesin cetaknya yang terdiri dari 42 baris.
Pada masa ini teknologi komunikasi didahului dengan ditemukannya mesin uap oleh James watt. Pengunaannya pada tahun 1785 dalam industri menimbulkan massifikasi produksi yang memaksa pencarian raw material secara ekspansi ke luar Eropa.
Melalui ekspansi ke luar Eropa tersebut menimbulkan kesadaran akan teknologi yang mampu mengatasi jarak ruang dan waktu.
Teknologi yang pertama masa ini adalah dengan ditemukannya Mesin telegraf oleh Morse pada tahun 1832.
PADA MASA INI KOMUNIKASI SUDAH BISA DILAKUKAN ANTARA MANUSIA DARI BERBAGAI BELAHAN DUNIA TANPA TERHALANG OLEH JARAK, RUANG, DAN WAKTU
Era ini mulai muncul ketika tahun 1942 ditemukan komputer mainframe pertama di Philadelphia Amerika Serikat yang disebut sebagai ENIAC (electronic numerical integrator and calculator).
Ditemukannya teknologi yang disebut sebagai “multi media” yaitu perpaduan tiga teknologi utama yaitu telepon, komputer dan televisi atau dalam istilah lain disebut sebagai pertemuan 2 C yaitu computer and communication.
“Interactive multimedia” yang menjadikan jaman modern ini sebagai masa”komunikasi interaktif”.
Masa ini adalah masa antara runtuhnya kekeaisaran Romawi hingga ditemukannya mesin uap tahun 1750 (revolusi industri). Pada masa tersebut Eropa dikuasai bangsa Babar sehingga tidak ada catatan tentang perkembangan teknologi komunikasi. Hanya saja di Cina ditemukan bahwa tahun 1190 telah ditemukan tulisan-tulisan dalam bentuk buku.
Munculnya pabrik kertas muncul pula surat kabar yang ditulis dengan tulisan tangan seperti Strange News di Ingris, Gazetta di Itali, Nova di Perancis.
PADA TAHUN 1440 seorang bangsa Jerman bernama Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak yang menjadi tonggak berlakunya komunikasi menggunakan simbol-simbol tercetak. Tahun 1452 Gutenberg telah menggunakan plat metal untuk sistem mesin cetaknya yang terdiri dari 42 baris.
Pada masa ini teknologi komunikasi didahului dengan ditemukannya mesin uap oleh James watt. Pengunaannya pada tahun 1785 dalam industri menimbulkan massifikasi produksi yang memaksa pencarian raw material secara ekspansi ke luar Eropa.
Melalui ekspansi ke luar Eropa tersebut menimbulkan kesadaran akan teknologi yang mampu mengatasi jarak ruang dan waktu.
Teknologi yang pertama masa ini adalah dengan ditemukannya Mesin telegraf oleh Morse pada tahun 1832.
PADA MASA INI KOMUNIKASI SUDAH BISA DILAKUKAN ANTARA MANUSIA DARI BERBAGAI BELAHAN DUNIA TANPA TERHALANG OLEH JARAK, RUANG, DAN WAKTU
Era ini mulai muncul ketika tahun 1942 ditemukan komputer mainframe pertama di Philadelphia Amerika Serikat yang disebut sebagai ENIAC (electronic numerical integrator and calculator).
Ditemukannya teknologi yang disebut sebagai “multi media” yaitu perpaduan tiga teknologi utama yaitu telepon, komputer dan televisi atau dalam istilah lain disebut sebagai pertemuan 2 C yaitu computer and communication.
“Interactive multimedia” yang menjadikan jaman modern ini sebagai masa”komunikasi interaktif”.
======================================================================
Miarso, 2007, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, PUSTEKOM.
Harahap. P, 1982, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta, gunung agung
Agoeng Nugroho, S.Sos, M.Si, Teknologi Komunikasi, graha ilmu, Yogyakarta.
http://dosenit.com/kuliah-it/teknologi informasi/pengertian-teknologi-menurut-para-ahli
Miarso, 2007, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, PUSTEKOM.
Harahap. P, 1982, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta, gunung agung
Agoeng Nugroho, S.Sos, M.Si, Teknologi Komunikasi, graha ilmu, Yogyakarta.
http://dosenit.com/kuliah-it/teknologi informasi/pengertian-teknologi-menurut-para-ahli
Sabtu, 15 September 2018
Manajemen Media 1: Apa dan Bagaimana Manajemen Media / Pers

Apa dan bagaimana manajemen Media atau pers? Untuk memahami tentang pengertian manajemen pers tentunya kita harus mengetahui makna dari kedua kata tersebut, yaitu kata “Manajemen” dan “Pers”.
Pengertian manajemen secara harfiah berarti mengelola atau mengatur, sedangkan pengertian persmerupakan suatu lembaga penerbitan media massa cetak seperti majalah, surat kabar, tabloid dan lainnya. Dengan begitu, maka pengertian manajemen pers secara umum adalah suatu usaha atau cara untuk mengelola media massa berupa koordinasi dengan unsur-unsur yang terkait di dalamnya.
Dari pengertian manajemen pers tersebut maka prosedur manajemen mengacu pada empat komponen fungsi penting yaitu:
Perencanaan
Pengorganisasian
Pelaksanaan
Pengendalian media massa
Baca juga: Pengertian Manajemen Komunikasi
Komponen Manajamen Pers
Keempat komponen manajemen pers menjadi prinsip dasar untuk membangun bisnis di bidang pers atau media massa. Berikut penjelasan dari masing-masing komponen tersebut:
1. Perencanaan
Dalam perencanaan mencakup persiapan sumber daya manusia berserta sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pers. Perencanaan membahas hal-hal yang terkait dengan strategi dan bagaimana perusahaan pers akan membuat, menjual dan mendistribusikan produknya.
2. Pengorganisasian
Pada komponen ini menyangkut struktur organisasi dalam pers seperti redaksi, tata usaha/ pemasaran dan produksi/ percetakan. Ketiga hal tersebut merupakan unsur dasar yang harus ada dalam sebuah bisnis pers. Setiap bagian memiliki job description yang berbeda dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.
3. Pelaksanaan
Segala perencanaan dan strategi yang sudah dibuat, kemudian diimplementasikan atau dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang berlaku di perusahaan pers. Pada tahap ini sangat menentukan keberhasilan bisnis pers termasuk bagaiman pers dapat diterima di masyarakat.
4. Pengendalian
Dengan adanya UU yang memuat tentang kebebasan pers, tidak berarti bisnis pers yang Anda jalankan bisa sepenuhnya bebas. Adanya unsur pengendalian di dalam bisnis pers yang Anda kembangkan akan membantu mempertahankan bisnis tersebut.
Media massa yang baik adalah media massa yang dapat diterima masyarakat dan tidak mengganggu keamanan nasional, apalagi mengandung konten-konten yang menyebabkan perpecahan di tengah masyarakat.
Etika Bisnis Media Massa Dalam Manajemen Pers
Mengacu pada pengertian manajemen pers sebelumnya dimana tujuannya untuk mengelola media massa maka di dalam manajemen pers juga mengandung etika bisnis media massa yang harus dipenuhi yaitu diantaranya:
1. Menyajikan Konten yang Benar
Sebuah media massa wajib menyajikan konten atau informasi yang benar dan tidak mengandung unsur kebohongan. Biasanya untuk menarik minat pembaca, media massa seringkali dilebih-lebihkan dari kenyataannya. Padahal hal tersebut tidak dibenarkan dalam UU pers.
Fakta harus disajikan sebagai fakta, begitu juga pendapat harus disampaikan sebagai pendapat. Masyarakat modern saat ini sudah bisa membedakan mana media massa yang berbobot dan mana yang tidak memiliki kredibilitas.
2. Sebagai Forum Diskusi
Peran media massa di Indonesia tidak hanya sebagai penyebar informasi atau berita saja, melainkan sebagai sebuah forum untuk berdiskusi, bertukar pendapat, komentar dan kritik.
3. Bersikap Netral
Media massa tidak berpihak pada kelompok atau etnis tertentu dalam masyarakat sehingga media massa dituntut untuk memahami kondisi dan karakteristik di tengah kehidupan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menghindari konfilk yang bisa saja timbul akibat isi berita yang disajikan.
4. Sebagai Sarana Edukasi
Media massa memiliki peran sebagai sarana edukasi sehingga bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat melalui berita-berita yang menjelaskan nilai kepada masyarakat. Media massa berperan untuk mengaitkan suatu peristiwa dengan hakikat keberadaan masyarakat tersebut.
5. Memuat Informasi yang Dibutuhkan Masyarakat
Media massa harus memuat berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat. Di jaman modern ini dengan kemudahan akses informasi membuat kebutuhan pers masyarakat semakin tinggi. Masyarakat memanfaatkan media massa untuk hidup yang lebih bekembang misalnya dalam bidang ekonomi.
KOMUNIKASI MASSA
Komunikasi massa adalah suatu proses
komunikasi yang tergolong dimediasi oelh medai massa dimana
produk-produk informasi diciptakan dan didistribusikan oleh suatu
organisasi komunikasi massa untuk dikonsumsi khalayak. Menurut Wright,
khalayak yang dituju itu bersifat luas, heterogen dan anonim. Luas
mencakup wilayah geografis dan sejumlah besar populasi. Heterogen dalam
hal karakteristik sosial, serta anonim berarti bahwa anggota tidak
dikenal oleh komunikatornya.FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI MASSA
Wright mengembangkan pendapat Laswell dalam menentukan fungsi-fungsi komunikasi massa, yaitu :
- Fungsi pengawasan : bisa memperingatkan akan bahaya-bahaya yang terjadi.
- Korelasi : menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terpisah ke dalam suatu pola umum yang dapat menandai suatu perubahan kompleks dalam masyarakat
- Transmisi budaya : mensosialisasikan individu-individu untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Transmisi budaya berfokus pada komunikasi pengetahuan, nilai-nilai dan norma-norma sosial dari generasi ke generasi.
- Hiburan
Ruben (1992) menyajikan pendapat Ruben tentang model komunikasi massa yang melibatkan tiga komponen.
Production Information Consumption
- Model jarum suntik (Hypodermic needle model) (Katz 1963) : intinya model datu tahap dimana medaia massa membawa pesan kepada khalayak dan menimbulkan pengaruh langsung, segera dan sangat kuat pada khalayak. Model ini menggambarkan media massa sebagai jarum suntik raksasa yang menyuntik kahlayak yang pasif.
- Model dua tahap : Tahap pertama sumber informasi ke pemuka pendapat (semata-mata hanya sebagai pengalih informasi), tahap kedua dari pemuka pendapat ke pengikutnya yang merupakan penyebarluasan pengaruh.
- model komunikasi satu tahap (Troldahl 1967) : perbaikan dari model jarum suntikyang mengakui bahwa tidak semua medai massa berpengaruh kuat, adanya aspek penyaringan, persepsi dan retensi, adanya perbedaan pengaruh bagi beragamnyakhaayak sertamemungkinkan pengaruh langsung dari komunikasi massa tanpa perantara pemuka pendapat.
- Model komunikasi banyak tahap : Menginkorporasikan semua model komunikasi. Banyaknya tahap dalam proses ini tergantung kepada tujuan sumber informasi, ketersediaan media massa, jumlah khalayak yang terdedah, sifat kepentingan pesan.
Perkembangan ICT 1: Sejarah Teknologi Informasi Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi dari segi pertumbuhannya dari masa ke masa terkait dengan itu terdapat pula beberapa aspek yang dikandung dalam perkembangan teknologi. Sehingga hal itu menjadi kebutuhan pokok manusia sebagai mahluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri - tanpa orang lain.
Sebelumnya, komunikasi hanya bisa dilakukan antara individu yang tinggal berdekatan. Bentuk komunikasi, salah satunya hanya dilakukan dilakukan dengan saling bertegur sapa dan bicara sebatas lingkungan hidupnya saja.
Dahulu juga orang yang tinggal di Indonesia tidak mengetahui apa yang terjadi di Amerika dan Eropa. Kejadian seperti ini tentu tidak akan kita dapati pada masa sekarang.
Dalam beberapa makalah dijelaskan bahwa sejarah teknologi komunikasi ini terbagi menjadi tiga, berikut pembagiannya:
Perkembangan Teknologi Komunikasi di Indonesia
Perkembangan teknologi komuniksi dan informasi mulai menemukan jalannya ketika Indonesia meluncurkan satelit untuk pertama kalinya pada tahun 1972 yang diberi nama Satelit Palapa. Berkat satelit ini, arus informasi dan komunikasi di Indonesia berkembang sangat pesat.
Sebelum berkembangnya teknologi komunikasi, masyarakat indonesia dahulu berkomunikasi dengan alat-alat komunikasi tradisional yang rata-rata hingga saat ini masih bisa kita jumpai alatnya di pedalaman desa.
Contohnya adalah Kentongan. Alat komunikasi tradisional yang satu ini pada masanya berfungsi sebagai alat komunikasi massal guna mengumpulkan masyarakat atau memberitahu masyarakat tentang terjadinya suatu kejadian.
Nah, perkembangan teknologi komunikasi di indonesia mulai terasa geliatnya ketika pada awal tahun 90-an telepon selular masuk ke indonesia. Tentu kalian ingat dengan pabrik handphone terbesar kala itu, pabrik itu bernama Nokia.
Meskipun dulu telepon selular baru bisa digunakan sebagai alat untuk nelpon dan sms yang tidak lebih dari 200an karakter, alat ini berhasil booming dan menjadi pionir kemajuan teknologi komunikasi secara massal.
Disisi yang lain, teknologi informasi juga mengalami kemajuan yang pesat bahkan sebelum teknologi komunikasi berkembang di Indonesia. Teknologi ini tidak lain dan tidak bukan adalah teknologi internet.
Teknologi internet ini mulai berkembang pesat di Indonesia pada tahun 1993. Pionir perubahan dan kemajuan internet ini adalah Universitas Indonesia dengan FASILKOM nya (Fasilitas Ilmu Komputer).
Pada tanggal 4 Maret 1993, untuk pertama kalinya Indonesia secara resmi terhubung dengan internet menggunakan protokol TCP/IP dan domain .id.
Kemudian setahun berikutnya pada 1994 muncullah Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia dengan nama indonet. Setelah itu, tahun berikutnya PT Telkom dengan divisi teknologinya menyediakan sambungan leased line 14,4 Kbps dengan pengguna pertama Departemen Pekerjaan Umum Indonesia (www.pu.go.id).
Nah, setelah kemajuan ini, internet di Indonesia dalam 3 tahun mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan dalam penuturan salah seorang ahli Indonesia merupakan salah satu negara dengan kemajuan teknologi internet tercepat bersama beberapa negara lain.
Baru setelah itu dikeluarkan lah Undang-Undang tentang Telekomunikasi pada tahun 1999.
Kemajuan teknologi mempunyai dampak positif dan negatif dalam beberapa aspek, diantara lain:
Bidang Ekonomi
Dampak Positif:
Pertumbuhan ekonomi semakin tinggi
Terjadinya industrialisasi
Produktifitas dalam berbagai tingkat ekonomi meningkat
Dampak Negatif:
Sebelumnya, komunikasi hanya bisa dilakukan antara individu yang tinggal berdekatan. Bentuk komunikasi, salah satunya hanya dilakukan dilakukan dengan saling bertegur sapa dan bicara sebatas lingkungan hidupnya saja.
Dahulu juga orang yang tinggal di Indonesia tidak mengetahui apa yang terjadi di Amerika dan Eropa. Kejadian seperti ini tentu tidak akan kita dapati pada masa sekarang.
Dalam beberapa makalah dijelaskan bahwa sejarah teknologi komunikasi ini terbagi menjadi tiga, berikut pembagiannya:
- Masa Prasejarah: Pada masa ini manusia telah menemukan cara berkomunikasi yang sangat efisien pada masanya, yaitu berupa gambar. Tentu kita pernah melihat bukti sejarah dari metode komunikasi ini, contohnya gambar-gambar yang terdapat di dinding gua yang menceritakan tentang suatu peristiwa.
- Masa Sejarah: Masa sejarah ini diawali dengan penemuan kertas oleh bangsa Cina. Semenjak ditemukannya kertas, manusia beralih dari menggambar di batu menjadi menulis di kertas-kertas. Dari penemuan ini, nantinya muncullah teknologi percetakan pertama kali menggunakan kayu.
- Masa Modern: Nah masa ini adalah masa yang sedang kita jalani saat ini. Teknologi masa kini sangat jauh maju dibanding dengan teknologi masa-masa sebelumnya. Salah satu pionir pembawa perubahan pada teknologi komunikasi adalah ketika ditemukannya gelombang radio dan dibuatnya alat komunikasi Radio.
- Telegraf dan Kode Morse, alat ini ditemukan oleh Samuel Morse dengan dua temannya, Sir William Cook dan Charles Wheatstone pada tahun 1837 M
- Telepon, alat ini ditemukan oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1877 yang pengembangannya berdasarkan teknologi telegraf saat itu.
- Fotografi, alat ini pertama kali ditemukan oleh Edward Maybridge pada tahun yang sama dengan ditemukannya telepon 1877 M
- Pita Penyimpan Magnetis, alat ini berbentuk tape yang didalamnya terdapat pita dari bahan mylar guna menyimpan suara. Alat ini ditemukan pada tahun 1899 M
- Transistor, alat ini dikembangkan oleh peneliti di Bell Telephone pada tahun 1948. Alat ini nantinya yang memprakarsai munculnya alat-alat berbasis transistor lainnya seperti televisi dan satelit.
- Jaringan Komputer, awalnya jaringan komputer ini digunakan dalam militer guna mengendalikan sistem pengeboman dan peluncuran kendali jarak jauh, emat tahun setelah itu muncullah jaringan komputer pertama di Amerika Serikat pada tahun 1969 M dengan kekuatan 50 Kbps.
Perkembangan Teknologi Komunikasi di Indonesia
Perkembangan teknologi komuniksi dan informasi mulai menemukan jalannya ketika Indonesia meluncurkan satelit untuk pertama kalinya pada tahun 1972 yang diberi nama Satelit Palapa. Berkat satelit ini, arus informasi dan komunikasi di Indonesia berkembang sangat pesat.
Sebelum berkembangnya teknologi komunikasi, masyarakat indonesia dahulu berkomunikasi dengan alat-alat komunikasi tradisional yang rata-rata hingga saat ini masih bisa kita jumpai alatnya di pedalaman desa.
Contohnya adalah Kentongan. Alat komunikasi tradisional yang satu ini pada masanya berfungsi sebagai alat komunikasi massal guna mengumpulkan masyarakat atau memberitahu masyarakat tentang terjadinya suatu kejadian.
Nah, perkembangan teknologi komunikasi di indonesia mulai terasa geliatnya ketika pada awal tahun 90-an telepon selular masuk ke indonesia. Tentu kalian ingat dengan pabrik handphone terbesar kala itu, pabrik itu bernama Nokia.
Meskipun dulu telepon selular baru bisa digunakan sebagai alat untuk nelpon dan sms yang tidak lebih dari 200an karakter, alat ini berhasil booming dan menjadi pionir kemajuan teknologi komunikasi secara massal.
Disisi yang lain, teknologi informasi juga mengalami kemajuan yang pesat bahkan sebelum teknologi komunikasi berkembang di Indonesia. Teknologi ini tidak lain dan tidak bukan adalah teknologi internet.
Teknologi internet ini mulai berkembang pesat di Indonesia pada tahun 1993. Pionir perubahan dan kemajuan internet ini adalah Universitas Indonesia dengan FASILKOM nya (Fasilitas Ilmu Komputer).
Pada tanggal 4 Maret 1993, untuk pertama kalinya Indonesia secara resmi terhubung dengan internet menggunakan protokol TCP/IP dan domain .id.
Kemudian setahun berikutnya pada 1994 muncullah Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia dengan nama indonet. Setelah itu, tahun berikutnya PT Telkom dengan divisi teknologinya menyediakan sambungan leased line 14,4 Kbps dengan pengguna pertama Departemen Pekerjaan Umum Indonesia (www.pu.go.id).
Nah, setelah kemajuan ini, internet di Indonesia dalam 3 tahun mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan dalam penuturan salah seorang ahli Indonesia merupakan salah satu negara dengan kemajuan teknologi internet tercepat bersama beberapa negara lain.
Baru setelah itu dikeluarkan lah Undang-Undang tentang Telekomunikasi pada tahun 1999.
Kemajuan teknologi mempunyai dampak positif dan negatif dalam beberapa aspek, diantara lain:
Bidang Ekonomi
Dampak Positif:
Pertumbuhan ekonomi semakin tinggi
Terjadinya industrialisasi
Produktifitas dalam berbagai tingkat ekonomi meningkat
Dampak Negatif:
Dampak negatif dalam bidang ekonomi adalah munculnya berbagai kasus penipuan berbasis teknologi.
Bidang Politik
Dampak Positif:
Mudahnya tercapai suatu tujuan politik dengan teknologi komunikasi dan informasi
Ramah lingkungan, teknologi ini tidak menyebabkan dampak yang signifikan pada lingkungan sekitar.
Cepat, efisien, nyaman dan mudah
Terhubungnya politik dalam negeri dengan dunia luar atau dengan kata lain, politik internasional mengalami kemajuan pesat berkat teknologi komunikasi ini.
Dampak Negatif:
Biaya yang yang dikeluarkan lumayan mahal
Jangkauan akses yang kurang merata diseluruh pelosok negeri
Transparansi yang kurang
Privasi yang semakin sulit dijaga.
Bidang Sosial
Dampak Positif:
Dalam bidang sosial, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sangat mempengaruhi perilaku masyarakat secara luas. Contohnya saat ini teknologi komunikasi cetak seperti koran dan majalah sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke media online.
Begitu juga dalam sosial bisnis khususnya berdagang. Dengan perkembangan teknologi komunikasi yang pesat, model berdagang konvensional sudah mulai berubah dari yang dulunya menempati lahan tertentu, sekarang beralih ke lahan virtual.
Dampak Negatif:
Dampak negatif yang paling terasa adalah masyarakat yang tinggal di pedalaman semakin tertinggal dengan kemajuan teknologi ini. Kemudian dalam ranah sosial budaya juga terjadi penyimpangan yang sangat mengkhawatirkan, yakni dengan maraknya situs pornografi dan oknum-oknum yang menyediakan akses nya.
Dampak positif dapat menjadi alat atau sarana bagi kemajuan bangsa kita, sedangkan dampak negatif semaksimal mungkin dihindari, agar dampak itu tidak meracuni bangsa Indonesia.
Bidang Politik
Dampak Positif:
Mudahnya tercapai suatu tujuan politik dengan teknologi komunikasi dan informasi
Ramah lingkungan, teknologi ini tidak menyebabkan dampak yang signifikan pada lingkungan sekitar.
Cepat, efisien, nyaman dan mudah
Terhubungnya politik dalam negeri dengan dunia luar atau dengan kata lain, politik internasional mengalami kemajuan pesat berkat teknologi komunikasi ini.
Dampak Negatif:
Biaya yang yang dikeluarkan lumayan mahal
Jangkauan akses yang kurang merata diseluruh pelosok negeri
Transparansi yang kurang
Privasi yang semakin sulit dijaga.
Bidang Sosial
Dampak Positif:
Dalam bidang sosial, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sangat mempengaruhi perilaku masyarakat secara luas. Contohnya saat ini teknologi komunikasi cetak seperti koran dan majalah sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke media online.
Begitu juga dalam sosial bisnis khususnya berdagang. Dengan perkembangan teknologi komunikasi yang pesat, model berdagang konvensional sudah mulai berubah dari yang dulunya menempati lahan tertentu, sekarang beralih ke lahan virtual.
Dampak Negatif:
Dampak negatif yang paling terasa adalah masyarakat yang tinggal di pedalaman semakin tertinggal dengan kemajuan teknologi ini. Kemudian dalam ranah sosial budaya juga terjadi penyimpangan yang sangat mengkhawatirkan, yakni dengan maraknya situs pornografi dan oknum-oknum yang menyediakan akses nya.
Dampak positif dapat menjadi alat atau sarana bagi kemajuan bangsa kita, sedangkan dampak negatif semaksimal mungkin dihindari, agar dampak itu tidak meracuni bangsa Indonesia.
Rabu, 06 Juni 2018
Press Release: IWO dan PMI Buka Posko Lebaran
Draft Judul:
IWO Dan PMI Tulangbawang Barat Akan Dirikan Posko Mudik Lebaran Terpadu
PMI dan IWO Tulangbawang Barat Dirikan Posko Mudik Lebaran
Ikatan Wartawan Online (IWO) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tulangbawang Barat, Lampung akan mendirikan posko mudik terpadu di Desa Tiyuh, Kecamatan Tulangbawang Tengah dalam rangka mudik Idul Fitri 1439 H.
"Kita semua berharap dengan adanya posko siaga lebaran ini, dapat membantu para pemudik yang membutuhkan informasi ataupun pelayanan kesehatan serta pertolongan pertama jika di butuhkan," kata Riko. Posko ini akan berkoordinasi pihak kepolisian dari Polsek Tulangbawang Tengah, terang Ketua IWO Tubaba Riko Amir usai pertemuan di kantor PMI Tulangbawang Barat pada Selasa (5/6).
Sugeng Riyanto yang merupakan Kepala Markas untuk posko terpadu tersebut menjelaskan bahwa posko tersebut akan disiagakan pada H-7 menjelang hari raya berlokasi tepat di depan Pasar Pulung Kencana guna memantau arus mudik, melakukan pelayanan pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan di sepanjang Jalan Raya Pulung Kencana, melaksanakan pemeriksaan kesehatan bagi warga sekitar atau pemudik.
Selain mendirikan posko, PMI bersama rekan rekan media dari IWO juga akan mengadakan patroli mengunakan kendaraan roda dua pada saat jam piket posko dengan harapan cara seperti ini efektif apabila ada pemudik yang tersesat atau salah jalan.
"Di posko itu kita akan memberikasn pelayanan Pertolongan Pertama (PP) dan Pelayanan Kesehatan, menyiagakan ambulans, dan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI," kata Sugeng saat mendampingi ketua PMI Tubaba Agus Subagyo di ruang kerjanya.
"Kita menyiapkan sekitar 50 orang tenaga relawan yang terdiri dari anggota korps sukarela sebanyak 15 orang, tenaga Sukarela 10 orang, staf PMI 6 orang dan staf UTD PMI 4 orang, sisanya dari rekan rekan anggota IWO dan anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI)," kata Sugeng. (IWO)
Senin, 21 Mei 2018
Jurnalistik Online 12: Pedoman Media Siber
Kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers.
Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk itu Dewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusun Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut:
Ruang Lingkup
Media Siber adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana Internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers.
Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)
Segala isi yang dibuat dan atau dipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain.
Verifikasi dan keberimbangan berita
Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.Ketentuan dalam butir (a) di atas dikecualikan, dengan syarat:Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak;
Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten;Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau tidak dapat diwawancarai;Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya.
Penjelasan dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan menggunakan huruf miring.Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib meneruskan upaya verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran (update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.
Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)
Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan Pengguna yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.
Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan dan melakukan proses log-in terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk Isi Buatan Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.
Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi Buatan Pengguna yang bertentangan dengan butir (c). Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir (c).
Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yang dengan mudah dapat diakses pengguna.Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkin secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima.Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b), (c), dan (f) tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggar ketentuan pada butir (c).Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan bila tidak mengambil tindakan koreksi setelah batas waktu sebagaimana tersebut pada butir (f).
Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab
Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.
Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media siber yang berada di bawah otoritas teknisnya;Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh media siber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu;Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan koreksi atas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang tidak dikoreksinya itu.
Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).
Pencabutan Berita
Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers.Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut.Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan kepada publik.
Iklan
Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib mencantumkan keterangan “advertorial”, “iklan”, “ads”, “sponsored”, atau kata lain yang menjelaskan bahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.
Hak Cipta
Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pencantuman Pedoman
Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianya secara terang dan jelas.
Sengketa
Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.
Jakarta, 3 Februari 2012
(Pedoman ini ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di Jakarta, 3 Februari 2012)
Rabu, 16 Mei 2018
Produksi Berita TV 6: Jenis & Format Penulisan Berita TV
Berita di media televisi dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, diantaranya:
1. Hard news
Berita peristiwa yang harus secara langsung/ cepat ditayangkan karena memiliki nilai penting dan baru. Pendekatan berbasis fakta (isi dan gambar). Contoh: Serangan teroris, letusan gunung dan banjir bandang.
2. Soft news
Berita peristiwa yang tidak perlu disampaikan secara cepat karena tidak memiliki aspek kesegeraan. Berita ringan mengutamakan sisi-sisi menarik, memberi warna pada suatu peristiwa. Contoh: Betapa kesedihan dan suasana haru saat pemakaman korban aksi terorisme, dan kisah-kisah yang melingkupinya.
3. Features
Berita yang mengisahkan tentang pribadi,obyek dengan menggunakan pendekatan kisah. Contoh: Kehidupan pengemis yang memiliki uang jutaan rupiah.
Sementara itu, untuk menentukan format mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor itu antara lain: Ketersediaan gambar. Jika gambar yang dimiliki sangat terbatas, reporter sulit menulis naskah berita yang panjang. Maka berita dibuat dalam format lebih singkat dan padat, atau dibuat dalam format tanpa gambar sama sekali.
Momen terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan. Perkembangan terkini dari suatu peristiwa baru sampai ke producer, ketika siaran berita sedang berlangsung. Sedangkan perkembangan itu terlalu penting untuk diabaikan. Jika ditunda terlalu lama, perkembangan terbaru pun menjadi basi, atau stasiun TV lain (kompetitor) akan menayangkannya terlebih dahulu.
Format-format berita TV:
READER (RDR)
Format berita TV yang paling sederhana, berupa LEAD IN yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar.
Bisa juga, karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di tengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan berita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimalnya 30 detik.
VOICE OVER (VO)/ VIDEO TAPE (VT)
VOICE (VO) / VIDEO TAPE (VT) adalah format berita TV yang LEAD IN dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi.
Natsound (natural sound, suara lingkungan) yang terekam dalam gambar bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, tentu Reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).
VOICE OVER GRAFIK (VO-GRF)
VO-GRAFIK adalah format berita TV yang LEAD IN dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.
SOUND ON TAPE (SOT)
SOUND ON TAPE (SOT) adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite).
Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk SOT sebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja. Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.
VOICE OVER -- SOUND ON TAPE (VO-SOT)
VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan VOICE OVER (VO) dan SOUND ON TAPE (SOT). LEAD IN dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.
PACKAGE (PKG)
PACKAGE adalah format berita TV yang hanya LEAD IN-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi.
Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket berita tersebut (stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2 menit 30 detik.
LIVE ON CAM
LIVE ON CAM adalah format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian ia memanggil reporter, di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan.
Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya sudah berlangsung, perlu ada bukti-bukti yang ditunjukkan langsung kepada pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.
LIVE ON TAPE (LOT)
LIVE ON TAPE adalah format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.
Format berita ini dipilih untuk menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa. Namun, siaran tak bisa dilakukan secara langsung karena pertimbangan teknis dan biaya. Meski siarannya ditunda, aktualitas tetap harus terjaga. Durasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan, namun biasanya lebih singkat dari format Live on Cam.
LIVE BY PHONE
LIVE BY PHONE adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.
PHONE RECORD
PHONE RECORD adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.
Visual News
Visual News adalah format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana Tsunami di Aceh.
Vox Pop
Vox pop (dari bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop bukanlah format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Isinya biasanya adalah komentar atau opini dari masyarakat tentang suatu isyu tertentu. Misalnya, apakah mereka setuju jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Jumlah narasumber yang diwawancarai sekitar 4-5 orang, dan diusahakan mewakili berbagai kalangan (tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, dan sebagainya). Durasi vox pop sebaiknya singkat saja dan langsung menjawab pertanyaan yang diajukan.
Struktur Penulisan Berita TV:
Ada perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.
Awal (pembuka)Setiap naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak berita yang akan disampaikan.
Pertengahan
Karena semua rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.
Akhir (penutup)Jangan akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan terjadi.
Aturan-aturan Dasar:Ada aturan-aturan dasar tertentu dalam penulisan berita untuk media televisi. Aturan ini bertujuan untuk membuat isi berita tersebut lebih mudah dipahami oleh pemirsa. Aturan ini juga akan membantu dan memudahkan presenter atau reporter di lapangan untuk membacakan berita tanpa kesalahan.
Lead yang menjual:
Setiap berita harus dimulai dengan kalimat lead yang kuat. Lead yang paling efektif biasanya mengacu ke beberapa aspek dari berita, yang dianggap penting atau menarik bagi pemirsa. Aspek ini kita namai “hook.” Kenali aspek dalam berita itu yang akan memancing perhatian pemirsa dan gunakanlah pada kalimat lead. Lead semacam itu akan memelihara tingkat perhatian dari pemirsa TV.
Angka. Dalam penulisan angka, sebutkan jelas angka dari “satu” sampai “sebelas”. Lebih dari “sebelas”, ditulis dalam bentuk angka: 12, 14, 25, dan seterusnya.
Untuk uang senilai Rp 145.325,50 tulis saja “seratus empat puluh lima ribu rupiah” atau “145 ribu rupiah.”
Untuk menyebut tahun, sebut apa adanya, karena presenter akan dengan cepat memahami angka tahun. Misalnya: 1998, 2007, dan seterusnya.
Singkatan dan akronim. Tuliskan dengan jelas singkatan sebagaimana Anda ingin mendengarnya on air. Misalnya: ITB ditulis “I-T-B.”
Jika suatu akronim sudah cukup dikenal, biarkan seperti apa adanya di naskah. Misalnya: NATO, OPEC, BAKIN, dan sebagainya.
Namun, jika si reporter ragu pemirsa akan memahami singkatan atau akronim itu, gunakan saja kepanjangan lengkapnya. Hal itu lebih aman dan menghindarkan presenter dari kemungkinan membuat kekeliruan.
Punctuation. Jangan gunakan punctuation dalam penulisan berita. Juga colon dan semicolon. Koma juga jarang digunakan dalam naskah untuk menandai jeda atau perubahan pemikiran. Presenter lebih suka menggunakan tiga titik (“…”) untuk menandai jeda, karena lebih mudah dibaca di alat TelePrompTer.
Nama. Selalu gunakan nama dan gelar secara sederhana dan bertutur. Jika Anda harus mengidentifikasi seseorang dengan gelarnya, tuliskan gelar itu di depan nama mereka, seperti ketika kita memberi atribusi. Kita bisa menambahkan informasi identifikasi lain, sesudah menyebut nama.
Spelling. Salah menyebut kata atau salah mengeja bisa terjadi pada presenter. Itulah sebabnya, sebelum tampil di layar TV, mereka memang sebaiknya membaca dulu naskah beritanya. Namun, sering hal ini tak dilakukan karena berbagai sebab. Entah karena sekadar malas, atau berita memang ditulis dadakan. Untuk menghindari kekeliruan, reporter yang menulis berita perlu memberitahu presenter, tentang cara mengucapkan nama atau istilah tertentu yang tidak biasa.
Grammar/Tata bahasa. Tata bahasa yang buruk bisa berdampak jelek pada penampilan presenter. Maka, periksalah sekali lagi naskah berita, untuk menghindari tata bahasa yang buruk, sebelum naskah itu diserahkan ke presenter.
Rumus 5 C untuk Penulisan Berita Media TV:
Conversational:Ketika menulis naskah berita untuk media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat, televisi adalah media audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat (gambar/visual) dan mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita seperti membaca koran.
Kelemahan media televisi adalah berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali. Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang. Kecuali mungkin untuk berita yang dianggap sangat penting, sehingga dari waktu ke waktu selalu diulang dan perkembangannya di-update oleh stasiun TV bersangkutan.
Keterbatasan tersebut berlaku untuk media TV konvensional. Namun, saat ini sudah muncul jenis media TV yang tidak konvensional. Sekarang di sejumlah negara maju sudah mulai diperkenalkan IPTV (internet protocol television), yang bersifat interaktif. Pemirsa yang berminat bisa mengulang bagian dari tayangan TV yang ia inginkan, tentunya dengan membayar biaya tertentu.
Namun, IPTV mensyaratkan adanya infrastruktur telekomunikasi pita lebar yang canggih dan mahal, yang saat ini belum tersedia di Indonesia. Dalam dua atau tiga tahun ke depan (katakanlah sampai tahun 2010), tampaknya infrastruktur semacam ini juga belum siap untuk mewujudkan kehadiran IPTV di Indonesia. Jadi, dalam pembahasan teknik penulisan naskah berita, kita mengasumsikan, media televisi di Indonesia sampai tahun 2010 masih akan bersifat konvensional.
Untuk media televisi yang konvensional, sebuah tayangan berita tidak bisa disimak dan dibaca berulang-ulang seperti kita membaca koran. Pemirsa hanya punya satu kesempatan untuk menangkap isi berita Anda. Oleh karena itu, berita di TV dibuat dengan gaya bahasa bertutur, seperti percakapan sehari-hari, karena ini adalah gaya bahasa yang paling akrab dan biasa didengar orang. Tulislah naskah berita seperti gaya orang berbicara.
Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, kita amat jarang menggunakan kalimat yang berpanjang-panjang, atau memiliki anak-anak kalimat. Namun, meskipun berita di TV menggunakan gaya bahasa bertutur, tata bahasanya tetap harus benar.
Clear:
Batasi kalimat untuk satu gagasan saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk menangkap dan memahami isi berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang, yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan kalimat yang rumit.
Atribusi untuk narasumber disampaikan lebih dulu sebelum pernyataannya, dan bukan sebaliknya. Hal ini untuk menghindarkan kebingungan di pihak pemirsa, dalam membedakan mana narasi dari si reporter dan mana opini dari si narasumber. Ini bertolak belakang dengan praktik yang biasa dilakukan di media cetak.
Jangan menggunakan terlalu banyak angka. Penyebutan angka-angka sulit ditangkap oleh pemirsa ketika mendengarkan berita. Buatlah angka itu mudah dimengerti. Jangan menempatkan angka di awal kalimat, karena bisa membingungkan.
Concise:Gunakan kalimat-kalimat yang bersifat pernyataan (deklaratif).
Tulislah kalimat-kalimat yang pendek. Menurut hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih kuat, ketimbang kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib tentang panjang kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap kalimat yang Anda tulis tidak lebih dari 20 kata.
Compelling:Tulislah dalam bentuk kalimat aktif. Para penulis berita menggunakan kalimat aktif karena lebih kuat dan lebih menarik. Selain itu, kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.
Cliché free: Kalimat atau pernyataan klise adalah pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di media. Pernyataan klise mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus diakui, banyak reporter merasa sulit menghindari pernyataan klise seperti ini.
Contoh kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu masih dalam penyelidikan.” Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak memberi informasi tambahan apapun kepada pemirsa.
Maka, kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang lebih informatif. Misalnya: “Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui penyebab kecelakaan. Polisi mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat diungkapkan hari Jumat besok. Reportase Trans TV akan melaporkan perkembangan ini besok untuk Anda.”Referensi:
Daftar Pustaka:
1. Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
2. Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT. Indeks, Kelompok Gramedia.
3. Ishadi SK. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
4. Ishadi S. 1999. Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
5. Metro TV, Claudius V Boekan, 2010, Panduan Kebijakan dan Standar Berita.
5. Smith, Dow. 2000. Power Producer: A Practical guide to TV news Producing – 2nd edition. Washington: Radio-Television News Directors Association.
6. Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi. Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo.
6. Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara: Konteks Politik Kebijakan Publik Industri Penyiaran Televisi. Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo.
Langganan:
Postingan (Atom)






