Cari Blog Ini

Kamis, 17 Oktober 2019

TPPN 5: Cara Meliput Peristiwa



Teknik Reportase
Meliput berita dan menggali informasi memiliki tahapan
• Lapisan pertama: Adalah fakta-fakta permukaan. Seperti: siaran pers, konferensi pers, pidato, dan sebagainya. Informasi disediakan narasumber sehingga masih sepihak.
• Lapisan kedua: Adalah upaya pelaporan yang dilakukan sendiri oleh si reporter. Di sini, sang reporter melakukan verifikasi, pelaporan investigatif, liputan atas peristiwa-peristiwa spontan, dan sebagainya. Di sini, peristiwa sudah bergerak di luar kontrol narasumber awal.
• Lapisan ketiga: Adalah interpretasi (penafsiran) dan analisis. Di sini si reporter menguraikan signifikansi atau arti penting suatu peristiwa, penyebab-penyebabnya, dan konsekuensinya.

Liputan Investigasi
• Liputan investigasi (investigatif reporting) adalah praktik jurnalisme, yang menggunakan metode investigasi dalam mencari informasi (Satrio Arismunandar) Karakter
1. Merupakan produk kerja asli jurnalis bersangkutan, bukan hasil investigasi dari sebuah instansi pemerintah atau nonpemerintah.
2. Mengandung informasi yang tidak akan terungkap tanpa usaha si jurnalis
3. Berkaitan dengan kepentingan publik. 

Bentuk
1. Pelaporan investigatif orisinal (original investigative reporting): Melibatkan reporter itu sendiri dalam mengungkap dan mendokumentasikan berbagai aktivitas subjek, yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik. Jurnalis mungkin menggunakan taktik mirip dengan kerja polisi. Seperti, penggunaan tenaga informan, pemeriksaan catatan/data publik, bahkan dalam situasi tertentu pemantauan aktivitas dengan sembunyi sembunyi dan penggunaan penyamaran.3. Pelaporan terhadap investigasi (reporting on investigations): Pelaporan berkembang dari temuan awal atau bocoran informasi, dari sebuah penyelidikan resmi yang sudah berlangsung atau yang sedang dipersiapkan oleh pihak lain, biasanya oleh badan badan pemerintah.
2. Pelaporan investigatif interpretatif (interpretative investigative reporting): Pelaporan interpretatif berkembang sebagai hasil dari pemikiran dan analisis yang cermat, terhadap gagasan serta pengejaran fakta fakta yang diikuti, untuk memadukan semua informasi itu dalam konteks yang baru dan lebih lengkap.

Cara Menemukan Fakta
• Mempelajari sumber sumber yang sering diabaikan, seperti arsip, rekaman pembicaraan telepon, buku alamat, catatan pajak, dan perizinan.
• Bicara kepada warga di lingkungan sekitar atau sumber anonim yang bocorkan informasi. • Menggunakan sumber riset berlangganan (di internet).
• Melakukan penyamaran. 


Jenis Berita
1. Berita Langsung ( Straight News ) : Berita tentang peristiwa yang penting dan harus segera disampaikan kepada pembaca.
2. Berita Ringan ( Soft News ) : Berita yang menampilkan sesuatu yang menarik, penting dan bersifat informatif.
3. Berita Kisah (Feature): Tulisan mengenai kejadian tyang dapat menggugah perasaan dan menambah pengetahuan pembaca melalui penjelasan yang rinci, lengkap, mendalam dan tidak terpengaruh waktu.PLAY

Rumus Menulis 5 W + 1 H
1. What : Apa yang terjadi
2. Where: Tempat Kejadian/dimana terjadi
3. When: Waktu sebuah peristiwa/kapan terjadi
4. Who: Sumber dan tokoh yang menjadi pemeran utama dalam berita/Siapa
5. Why: Mengapa peristiwa itu terjadi
6. How: Bagaimana kejadian, situasi/suasana

Penulisan Lead
1. Berisi kalimat langsung yang mudah dimengerti pembaca
2. Mencakup unsur 5W + 1H
3. Ditempatkan di alinea pertama
4. Maksimal tiga kalimat yang tidak bertele-tele
5. Merupakan bagian terpenting dari berita Isi Berita

• Merupakan pengembangan Why dan How
• Memuat kutipan berupa pernyataan yang dinyatakan langsung dari sumber berita. Kutipan berfungsi sebagai penguat kalimat sebelumnnyaLead (Kepala Berita) Kalimat yang menjadi bagian terpenting dari sebuah berita sehingga menempati alinea pertama dari sebuah berita. Fungsinya sebagai penarik perhatian dan identitas berita. Lead bisa mengedepankan salah satu dari unsur 5W + IH

Teknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Namun, membahas teknik reportase, berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy).

Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya. 

Secara sosiologis berita merupakan semua hal yang terjadi di dunia. Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide baru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online internet (Haris Sumadiria 2005, 65).
Menurut pakar jurnalistik berita adalah apa yang ditulis surat kabar, apa yang disiarkan radio, dan apa yang ditayangkan Televisi. Berita menampilkan fakta, tetapi tidak setiap fakta merupakan berita, berita biasanya menyangkut orang- orang, tetapi tidak setiap orang bisa dijadikan berita. Berita merupakan sejumlah peristiwa yang terjadi didunia, tetapi hanya sebagian kecil saja yang dilaporkan.

Paul De Massenner dalam buku Here’s The News: Unesco Associate menyatakan news atau berita adalah sebuah informasi yang penting dan menarik perhatian serta minat khalayak pendengar. Charnley dan James M. Neal menuturkan, berita adalah laporan tentang suatu peristiwa, opini, kecenderungan, situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa berita bukan hanya menunjuk pada pers atau media massa dalam arti sempit dan tradisional, melainkan juga radio, televisi, film, dan internet atau media massa dalam arti luas dan modern. Berita pada awalnya memang hanya milik surat kabar. Tetapi sekarang berita telah juga menjadi darah daging radio, telebisi, dan internet. Tak ada media tanpa berita, sebagaimana halnya tak ada berita tanpa media.

Jenis Jenis Berita
Straight News Report
Laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Misalnya, sebuah pidato biasanya merupakan berita- berita langsung yang hanya menyajikan apa yang terjadi dalam waktu singkat.
Depth News Report
Laporan yang sedikit berbeda dengan straight news report. Reporter (wartawan) menghimpun informasi dengan fakta-fakta mengenai peristiwa itu sendiri sebagai informasi tambahan untuk peristiwa tersebut.
Comprehensive News
Laporan tentang fakta yang bersifat menyeluruh ditinjau dari berbagai aspek, berita menyeluruh sesungguhnya merupakan jawaban terhadap kritik kritik sekaligus kelemahan yang terdapat dalam berita langsung (staright news). Sebagai gambaran berita langsung bersifat sepotong-potong, tidak utuh, hanya merupakan serpihan fakta, berita langsung seperti tidak peduli dengan hubungan atau keterkaitan antara berita satu dan berita yang lain. maka dari itu berita menyeluruh mencoba menggabungkan berbagai serpihan fakta itu dalam satu bangunan cerita peristiwa sehingga benang merahnya terlihat dengan jelas.
Interpretative report
Berita ini biasanya memfokuskan sebuah isu, masalah, atau peristiwa-peristiwa kontroversial. Namun demikian fokus laporan beritanya masih berbicara mengenai fakta yang terbukti bukan opini.
Feature story
Penulis mencari fakta untuk menarik perhatian pembacanya. Penulis feature menyajikan pengalaman pembaca yang lebih bergantung pada gaya penulisan dan humor dari pada pentingnya informasi yang disajikan.
Depth reporting
Pelaporan jurnalistik yang bersifat mendalam, tajam, lengkap dan utuh tentang suatu peristiwa fenomenal atau aktual.

Teknik mencari berita
Pada bagian ini akan menguraikan tentang pokok dua bahasan utama. Pertama, bagaimana kita mencari dan meliput berita sesuai dengan standar prosedur operasional (SPO) jurnalistik. Kedua, bagaimana kita menulis berita, disini kita bicara tentang anatomi berita, pola piramida terbalik, arti dan fungsi teras berita, dan jenis-jenis teras berita.

Berita Diduga melalui meeting
Berita yang baik adalah hasil perencanaan yang baik, prinsip ini berlaku bagi berita yang sifatnya diduga. Kita harus bisa mencari dan menciptakan berita, proses pencarian dan penciptaan berita dimulai di ruang redaksi melalui forum rapat proyeksi. Menurut Haris Sumadiria rapat proyeksi diselenggarakan secara rutin, berpijak kepada tiga asumsi dasar.

Berita diduga yang baik hanya bisa diperoleh melalui persiapan perencanaan yang baik
Masyarakat kita semakin dinamis dan kritis sebagai dampak langsung bergulirnya era reformasi
. Media masa sebagai industri jasa komunikasi dan informasi, kini dihadapkan pada pola kompetisi yang ketat, keras, dan tajam

Berita Tak Diduga melalui Hunting
Untuk berita yang sifatnya tiba-tiba atau tidak terduga, kita harus bisa dan pandai berburu, kita harus hunting. Sebagai hunter kita harus memiliki beberapa kemampuan dasar. Kita harus memiliki kepekaan berita yang tajam, daya pendengaran berita yang baik serta mengembangkan penciuman berita yang tajam.
Setelah itu barulah kita dituntut untuk memiliki keterampilan prima dalam penulisan berita. Ini hanya mungkin tercapai apabila kita sangat menguasai teori dan aplikasi bahasa. Bagi jurnalis, penguasaan bahasa adalah prasyarat dasar, sifatnya mutlak, tak bisa ditaawar-tawar lagi.

Dalam proses pencarian berita kita akan mempelajari beberapa teknik mendasar, perlu diingat teknik- teknik ini tidak dapat berdiri sendiri, artinya bisa saja proses pencarian berita dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik secara bersamaan, beberapa teknik pencarian berita adalah sebagai berikut :

Observasi
Secara sederhana observasi merupakan pengamatan terhadap realitas sosial. Ada pengamatan langsung, ada juga pengamatan tak langsung. Seseorang dikatakan melakukan pengamatan langsung bila ia menyaksikan sebuah peristiwa dengan mata kepalanya sendiri, pengamatan ini bisa dilakukan dalam waktu yang pendek dan panjang. Pendek artinya setelah melihat sebuah peristiwa dan mencatat seperlunya. Contoh : peristiwa kecelakaan lalu lintas. Sedangkan panjang berarti seseorang berada dalam tempat kejadian dalam waktu yang lama. Contoh : peristiwa bencana alam.
Seseorang dikatakan melakukan pengamatan tidak langsung bila ia tidak menyaksikan peristiwa yang terjadi, melainkan mendapat keterangan dari orang lain yang menyaksikan peristiwa itu. Misalnya penemuan mayat suami-istri disebuah rumah. Si A mendapat informasi bahwa dijalan melati no 24 ditemukan sepasang mayat suami-istri. Pengamatan disini tidak sama persis dengan pengamatan seorang peneliti. Seorang peneliti melakukan pengamatan berdasarkan konsep dan hipotesis, hasilnya biasanya dilaporkan dengan disertai pemecahan masalah ala mereka. Sedangkan seorang pers melakukan pengamatan untuk melaporkan kejadian sebuah peristiwa apa adanya.

Wawancara
Wawancara adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan reporter atau wartawan dengan narasumber untuk memperoleh informasi menarik dan penting untuk diinginkan (Haris Sumadiria 2005, 103).
Menurut Newsom dan wollert dalam media writing menegaskan wawancara merupakan alat utama dalam proses pengumpulan bahan berita, dengan wawancara reporter atau wartaawan akan dapat menggali informasi sebanyak dan sedalam mungkin dari narasumber.
Untuk bisa mencapai hasil seperti itu,tentu saja diperlukan pengetahuan serta kemampuan dasar dari reporter atau wartawan dalam proses wawancara. Ia harus memahami maksud dan tujuan wawancara, menguasai topik dan materi wawancara, serta dapat menata dengan baik organisasi wawancara, ia harus tahu kapan (timing), dimana, dan dalam situasi apa sebaiknya wawancara dilakukan, ia juga harus bisa mendeteksi dan mengevaluasi, apakah informasi yang dicarinya sudah diperoleh dengan memadai.

Menurut Jonathan wawancara yang baik harus memenuhi delapan persyaratan
Mempunyai tujuan yang jelas
Efisien
Menyenangkan
Mengandalkan persiapan dan riset awal
Melibatkan khalayak
Menimbulkan spontanitas
Pewawancara sebagai pengendali
Mengembangkan logika

Dalam melakukan wawancara juga harus memperhatikan beberapa hal antara lain
Menjaga suasana
Bersikap wajar
Memelihara situasi
Tangkas dalam menarik kesimpulan
Menjaga pokok persoalan
Kritis
Sopan santun


Konferensi pers
Pernyataan yang disampaikan seseorang yang mewakili sebuah lembaga mengenai kegiatannya kepada para wartawan. Biasanya menyangkut citra lembaga, peristiwa yang sangat penting dan bersifat insidental. Tetapi, tidak jarang bersifat periodik, seperti konferensi pers menteri luar negeri, yang berlangsung seminggu sekali. Pada setiap konferensi pers, setiap wartawan memiliki hak yang sama untuk mengajukan pertanyaan kepada orang yang memberikan konferensi pers, umumnya lalulintas informasi dalam konferensi pers dilakukan lewat dialog langsung. Tetapi ada juga yang menggunakan informasi tertulis yang dibagikan kepada para wartawan.

Press Release
Bisa diartikan sebagai siaran pers yang dikeluarkan oleh suatu lembaga, satu organisasi atau seorang individu secara tertulis untuk para wartawan. Ia mewakili kepentingan lembaga, organisasi atau individu. Itulah sebabnya media massa cetak yang besar tidak mau memuat siaran pers ini, juga tidak ada kesempatan bagi para wartawan untuk bertanya kepada pihak yang mengeluarkan siaran pers tentang siaran pers. Inilah yang membedakannya dengan konferensi pers, tegasnya pada press release tidak ada tanya jawab dengan wartawan dan narasumber, sedangkan pada konferensi pers ada.

Rabu, 16 Oktober 2019

TPPN 4: MENGIDENTIFIKASI FAKTA DALAM PERISTIWA



Membaca intensif merupakan kegiatan membaca bacaan secara teliti dan seksama dengan tujuan memahaminya secara rinci. Membaca intensif merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis.
Tarigan (1990:35) mengutip pendapat Brook menyatakan bahwa, membaca intensif merupakan studi seksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan. Yang termasuk membaca intensif ini adalah membaca dengan pemahaman. Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal (luar biasa), atau kontroversial (perdebatan) yang berkembang di masyarakat.

Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan. Tajuk rencana mempunyai sifat: 1.      Krusial (genting/gawat) dan ditulis secara berkala, tergantung dari jenis terbitan medianya bisa harian (daily), atau mingguan (weekly), atau dua mingguan (biweekly) dan bulanan (monthly).
2.      Isinya menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik itu aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, atau olah raga bahkan entertainment, tergantung jenis liputan medianya.
3.      Anonim (tanpa identitas/tanpa mencantumkan nama penulis) Karena merupakan suara lembaga maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti halnya menulis berita atau features. Idealnya tajuk rencana adalah pekerjaan, dan hasil dari pemikiran kolektif dari segenap awak media. Jadi, proses sebelum penulisan tajuk rencana terlebih dahulu diadakan rapat redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan sikap bersama terhadap suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintahan.

Ada 2 jenis tajuk rencana berdasarkan golongan/sifat:
Tajuk rencana golongan pers menengah ke atas (middle-high media) atau pers yang berkualitas memiliki ciri-cirinya:
a.      Hati-hati (tidak menyebut nama orang yang sedang diberitakan)
b.      Normatif (menurut aturan yang berlaku)
c.       Cenderung konservatif (bersikap sesuai keadaan, mempunyai ciri khas tertentu, tradisi)
d.      Pertimbangan aspek politis lebih besar dari aspek sosiologi.

Tajuk rencana dari golongan pers tengah ke bawah (middle-low media) berlaku sebaliknya.
Ciri-cirinya:
a.      Lebih berani (langsung menyebut nama orang yang diberitakan)
b.      Atraktif (mempunyai daya tarik untuk semua kalangan)
c.       Progresif (bersifat memberi perubahan/ kemajuan)
d.      Lebih memilih pendekatan sosiologis daripada pendekatan politis
Pengertian fakta adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Ciri-ciri fakta:
1.        Benar-benar terjadi;
2.        Waktu, tempat, dan tanggal peristiwa jelas;
3.        Diperkuat dengan angka-angka.

Jenis fakta
a.      Fakta umum, adalah kebenaran yang berlaku sepanjang zaman dari dulu sampai sekarang. Atau informasi yang berisi fakta yang masih umum, belum teruraikan secara khusus tentang nama tempat, objek peristiwa, pelaku, dan sebagainya.
Contoh:
1)      Matahari terbit di sebelah Timur.
2)      Sukabumi merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat.
3)      Ayah baru pulang dari Prancis, paman dan kakak sedang menjemputnya.
4)      Puluhan pedagang kaki lima dan warung pinggir jalan terkena razia.
b.      Fakta khusus (spesifik), adalah kebenaran yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Atau Informasi yang berisi kejadian/peristiwa lalu dijelaskan secara terperinci dan detail.
Contoh:
1)        Pak Yayan makan bakso.
2)        Ayah baru pulang dari Prancis, paman dan kakak sedang menjemputnya di Bandara Juanda Surabaya kemarin siang.
3)         Puluhan pedagang kaki lima di Jalan Diponegoro dan warung pinggiran terkena razia kemarin pagi.

Pendapat atau opini adalah sesuatu yang kebenarannya masih perlu diuji, karena bentuknya masih berupa pendapat. Kalimat yang mengungkapkan pendapat penulis biasanya ada kata, menurut saya, sepertinya, bagus sekali, sangat (bagus), dan sejenisnya, maka kalimat tersebut berupa kalimat opini. Kalimat opini dibedakan menjadi kalimat opini perorangan dan opini umum.
Ciri-ciri opini:
1.      Belum terjadi (baru rencana);
2.      Berupa pendapat;
3.      Bersifat  subjektif;
4.      Keterangannya belum jelas.

Jenis opini
1.      Opini perorangan (subjektif) : pendapat berdasarkan pandangan pribadi/orang-orang tertentu saja. Contoh:
·         Menurut para ahli, pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai 400 juta jiwa.
·         Menurut saya, pakaian yang dikenakan pria itu sepertinya bagus sekali. ·         Sepertinya jalanan ini akan banjir. 2.      Opini umum (objektif) : pendapat berdasarkan pandangan (orang banyak/ khalayak umum).
Contoh:
·         Menghisap rokok secara berlebihan akan merugikan diri sendiri.
·         Terjadinya tsunami pada tahun 2004 di daerah Aceh menewaskan banyak korban.
·         Dengan giat belajar dan tekun, akan menjadikan kita semakin pandai.

Banyaknya
informasi  yang hadir di berbagai media bikin kita kebanjiran informasi. Tapi, lo patut berhati-hati nih bro. Pasalnya, nggak semua informasi yang hadir itu benar 100% dan malah merupakan hoaks nggak jelas. Nah, ada baiknya nih lo perlu waspada dan bisa memilah mana informasi yang benar dan palsu.
Ini dia cara membedakan berita hoax  dengan berita  yang benar
1. Nama dan situs media nggak jelas
Sebelum konsumsi berita, lo patut nih perhatikan nama dan situs media yang menyebarkan beritanya itu. Kalau nama dan situs media nggak jelas, contohnya berdomain blog biasa atau nama media terkesan provokatif. Ada baiknya lo mengonsumsi berita  dari media-media yang memang sudah terpercaya dan kredibel bro
2. Judul umumnya provokatif
Pertama kali baca berita  pasti dari judulnya dulu kan. Nah, kalau memang judulnya sudah terkesan provokatif itu bisa jadi salah satu ciri berita hoaks. Contohnya nih, di judul sudah menuding kesalah satu pihak, menggunakan kata-kata kasar atau umpatan negatif
3. Cek n ricek dari Berbagai Sumber
Jangan mudah percaya dari satu sumber berita. Pastikan dulu kejelasan isi berita  tersebut dari beberapa sumber lain. Ini penting untuk bisa membedakan isi berita  yang lo baca hoax  atau tidak.
4. Cek foto dan video
Nggak cuma dari tulisannya aja sob yang perlu lo cek hoax  atau tidak. Foto dan video pun harus lo cek keasliannya. Jangan-jangan foto dan video itu sebenarnya bukan terkait kejadian sesuai berita, tapi ambil dari peristiwa lama atau beda konteks
5. Nama penulis
Berita yang benar itu harusnya ada nama penulis yang tercantum. Hal itu karena si penulis lah yang bertanggung jawab penuh soal isi beritanya. Kalau nggak ada patut diragukan nih, soalnya nggak ada pihak yang jadi penanggung jawab dari berita tersebut.
Intinya sih ya sob, lo perlu selalu hati-hati dalam mengonsumsi berita. Jangan asal percaya dan share gitu aja berita yang belum jelas kebenarannya. Pastikan juga lo baca berita sampai akhir ya, jangan cuma kemakan judul dan tulisan awalnya aja. Yuk lebih cermat dan cerdas dalam mengonsumsi atau menyebarkan berita!


Selasa, 15 Oktober 2019

TPPN 3: Palsu atau nyata? Cara Memeriksa Diri Berita dan Mendapatkan Fakta



Berita palsu dapat mengakibatkan konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari. Beredarnya informasi palsu, menjadi masalah besar pada saat-saat ini. Kisah-kisah berita palsu mendapat banyak perhatian. Seperti berita di tajuk utama tentang klaim bahwa pemimpin agama Katolik Paus Francis mendukung Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika pada November 2016, mengakibatkan situs-situs media seperti American News menyuarakan berita yang diduga menyesatkan atau bahkan mengambil kutipan di luar konteks.

Ketika situs-situs seperti DC Gazette – menyiarkan informasi tentang orang-orang yang diduga menyelidiki keluarga Clinton ditemukan tewas, kisah-kisah itu menjadi viral dan beberapa orang bahkan jadi mempercayainya. Padahal, kisah-kisah seperti itu merupakan informasi palsu, yang tidak dibenarkan dengan cara apa pun. 

Pelacakan terhadap para pembuat berita palsu tentu terus dilakukan oleh aparat penegak hukum, sehingga aparat pun menggunakan berbagai teknik dan teknologi untuk melacak para pembuat berita palsu.

Menghentikan penyebaran berita palsu bukan hanya tanggung jawab platform atau sosial media yang digunakan untuk menyebarkannya. Mereka yang mengkonsumsi berita juga perlu menemukan cara untuk menentukan apakah yang mereka baca itu benar.
Berikut beberapa tips untuk mengetahui kebenaran fakta, apakah informasi yang beredar tersebut palsu atau sesuai fakta.

Setiap orang harus memiliki pemahaman mendasar tentang literasi media. Dan berdasarkan penelitian yang baru-baru ini dirilis oleh para peneliti dari Universitas Stanford, di Amerika Serikat -- banyak orang tidak memiliki pemahaman mendasar tentang literasi media.

Sam Wineburg, seorang profesor pendidikan dan sejarah di Stanford dan penulis utama studi ini menyatakan, untuk mengatasi hal ini, diharapkan setiap pembaca media, membaca seperti mereka pun sebagai si pemeriksa fakta.
Bagaimana pemeriksa fakta melakukan tugasnya?

Alexios Mantzarlis, direktur Jaringan Pengecekan Fakta Internasional di Poynter, mengatakan bahwa pemeriksa fakta melalui beberapa proses untuk setiap klaim yang mereka tangani. “Setiap orang akan menjaga klaim, jika ada suatu informasi yang dapat diverifikasi secara objektif, Anda akan mencari sumber primer terbaik dari topik yang dibahas. 

Temukan apakah informasi tersebut cocok, justru membantah atau bahkan membuktikan klaim yang dibuat, dan dengan semua keterbatasan data dan apa data tersebut mengatakan hal lain tentang klaim yang dibuat," ujar Mantzarlis.

Itulah kerangka acuan cek fakta bagi para profesional, tetapi ada cara lain bagi semua orang untuk melakukan penyelidikan fakta. Melissa Zimdars, asisten profesor komunikasi dan media di Merrimack College di North Andover, Mass mengungkapkan. Ketika dia melihat murid-muridnya mereferensikan sumber-sumber yang dipertanyakan, dia menyusun berbagi dokumen bersama murid-muridnya tentang bagaimana berpikir terkait asal sumber, serta daftar informasi yang menyesatkan, terutama berasal dari situs satir dan palsu.

Baik Mantzarlis dan Zimdars sepakat terdapat beberapa praktik terbaik yang dapat digunakan setiap orang ketika membaca artikel online.

1. Perhatikan domain dan URL
Organisasi media yang telah mapan biasanya memiliki domain dan memiliki tampilan standar yang mungkin telah anda kenal. Situs dengan akhiran seperti .com.co akan membuat para pembaca lebih memperhatikan dan memberi tambahan keingintahuan bahwa si pembaca perlu menggali lebih dalam, untuk melihat apakah mereka dapat mempercayai situs tersebut. Hal ini untuk menentukan kebenaran bahkan ketika situs terlihat profesional dan memiliki logo yang sedikit banyak telah dikenal masyarakat. Misalnya, abcnews.com adalah sumber berita yang sah, tetapi abcnews.com.co bukanlah sumber berita yang sah, meskipun tampilannya serupa.

2. Baca bagian di situs "Tentang Kami"
Sebagian besar situs mengunggah informasi tentang rubrik berita, perusahaan yang menjalankannya, daftar redaksi, dan pernyataan visi-misi dan kode etik organisasi media. Bahasa yang digunakan sangat mudah. Jika dalam artikel yang dimuat terlalu melodramatik dan terkesan berlebihan, sang pembaca harus skeptis. Selain itu, para pembaca pun harus dapat menemukan lebih banyak informasi tentang para pemimpin redaksi tersebut, selain di situs itu.

3. Lihatlah kutipan dalam sebuah cerita
Sebagian besar publikasi memiliki banyak sumber dalam setiap cerita yang diterbitkan secara profesional dan para nara sumber itu memiliki keahlian di bidang yang mereka bicarakan. Jika terdapat masalah serius atau kontroversial, ada kemungkinan besar akan terdapat banyak kutipan. Cari profesor atau akademisi lain yang dapat berbicara tentang persoalan yang dibahas, dikaitkan dengan penelitian yang telah mereka lakukan. Dan jika mereka berbicara tentang penelitian, si pembuat berita juga harus mempelajari isi studi itu.

4. Lihatlah siapa yang mengatakannya
Kemudian, lihat siapa yang menyatakan sesuatu dalam kutipan, dan apa yang mereka katakan. Apakah mereka sumber yang memiliki reputasi baik, dengan judul yang dapat Anda verifikasi melalui pencarian cepat Google?

5. Periksa komentarnya
Banyak dari cerita palsu yang menyesatkan, dibagikan di platform media sosial. Biasanya masyarakat hanya membaca secara singkat dari judur berita utamanya, yang memang bertujuan untuk mendapatkan perhatian pembaca. Tetapi seharusnya judul bisa mencerminkan secara akurat tentang apa cerita tersebut.

Akhir-akhir ini, hal itu tidak terjadi. Berita utama/ atau headline sering kali ditulis dalam bahasa yang berlebihan dengan maksud menyesatkan dan kemudian dilampirkan pada cerita yang tentang topik yang sama sekali berbeda atau tidak benar. Kisah-kisah ini biasanya menghasilkan banyak komentar di Facebook atau Twitter. Jika banyak dari komentar ini menyebut artikel itu sebagai palsu atau menyesatkan, mungkin baru terungkap bahwa berita itu adalah berita palsu.

6. Membalikkan pencarian gambar
Sebuah gambar harus akurat dalam menggambarkan isi cerita. Ini sering kali tidak terjadi. Apalagi jika para pencari berita yang menulis berita palsu itu, bahkan tidak meninggalkan rumah mereka atau mewawancarai siapa pun untuk berita yang mereka buat. Kecil kemungkinan mereka akan mengambil foto sendiri.

Jadi, lakukan lah sedikit penyelidikan dan gali informasi tentang berita itu di mesin pencarian gambar di Google. Anda dapat melakukan ini dengan mengklik kanan pada gambar dan membiarkan Google mencari gambar yang ingin anda ketahui. Jika gambar muncul di banyak cerita tentang banyak topik berbeda, ada kemungkinan itu bukan gambar dari apa yang diungkapkan di cerita pertama.

Kiat-kiat ini hanyalah kiat permulaan dalam menentukan jenis berita atau suatu artikel itu merupakan berita palsu atau sesuai fakta. Zimdars menjabarkan ini dan lainnya dalam panduan untuk murid-muridnya.

Jika Anda melakukan langkah-langkah ini, Anda membantu diri sendiri dan Anda membantu orang lain dengan tidak meningkatkan sirkulasi cerita-cerita palsu tersebut. Dan Anda tidak akan menjadi satu-satunya orang yang mencoba menghentikan penyebaran konten palsu. 

Para pemimpin perusahaan di balik platform / sosial media yang kerap ditunggangi cerita palsu, tengah mencoba mencari cara untuk memperbaiki masalah mereka, tetapi mereka juga berusaha memastikan untuk tidak membatasi kebebasan berekspresi. Ini posisi yang sulit untuk dilalui oleh para pemilik platform sosial media, namun mereka akan berupaya menangkal berita palsu. Akhirnya, hal itu tergantung pada tanggung jawab moral dari pemilik sosial media tersebut.

Selain itu, terdapat pula publikasi satir/ sindiran yang menyasar tujuan tertentu, meski jelas berita itu diberi label sebagai informasi yang dilebih-lebihkan dan hal yang lucu oleh penulis dan pemilik media. Jika orang yang membacanya tidak mengerti, mereka mungkin membagikan artikel ini setelah membacanya dalam arti yang sebenarnya atau harfiah.

Jika ini terjadi atau jika Anda melihat teman Anda membagikan berita palsu secara terang-terangan, jadilah teman yang baik dan katakan bahwa informasi yang dibagikan itu tidak sesuai fakta. Jangan hanya bisa menghindar dari perdebatan meski hubungan Anda dengan teman itu, bahkan mungkin menjadi tidak nyaman. Seperti ada tertulis, setiap orang harus memberangus setiap berita palsu yang beredar. (Wynne Davis)

Selasa, 08 Oktober 2019

TPPN 2: KRITERIA LAYAK BERITA



Gambar di atas merupakan show Gajah di Negara Gajah Putih, Thailand. Apakah gambar ini menarik untuk dijadikan berita dan memiliki kriteria layak berita. Iya, jika banyak hal unik yang disajikan di pertunjukan tersebut.

Selain itu Jurnalisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya atau kewartawanan. Sementara itu, banyak yang mendefinisikan jurnalisme sebagai proses pengerjaan sebuah karya-karya, pengumpulan data, atau informasi yang selanjutnya karya tersebut melewati proses penyuntingan hingga menjadi sebuah berita yang layak dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Secara singkat, jurnalisme adalah bercerita dalam bentuk berita dengan suatu tujuan. Dalam cerita atau berita tersebut, selalu tersirat pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada para pembacanya. Selain itu, terdapat sebuah tema yang diangkat dari satu peristiwa. Yang tak kalah penting, yaitu dalam berita harus terdapat karakteristik intrinsik yang dikenal sebagai nilai berita (news value). Nilai berita inilah yang menjadi tolok ukur yang berguna dan bisa diterapkan untuk menentukan kelayakan sebuah berita (newsworthy).

Dalam pandangan lama, menurut Christian Weise dalam Kusumaningrat (2005 : 58) mengemukakan bahwa pada tahun 1676dalam memilih berita harus dipisahkan antara yang benar dan palsu.Tahun 1690, Tobias Peucer menulis disertasi tentang penerbitan surat kabar di Jerman.Ia menyebut kriteria yang menentukan nilai layak berita, yakni:
(a) tanda-tanda tidak lazim, benda-benda ganjil, hasil kerja atau produk alam dan seni yang hebat, atau peristiwa alam luar biasa.
(b) berbagai jenis keadaan, perubahan pemerintahan, masalah perang dan damai, ahli waris tahta, upacara pelantikan dan upacara resmi serupa itu, dsb.
(c) masalah-masalah gereja dan keterpelajaran.

Sementara hal biasa dan tidak menarik untuk diberitakan menurut Peucer antara lain “kegiatan rutin manusia sehari-hari yang dibedakan oleh musim dan tidak seperti kejadian langka semisal badai yang disertai petir dan guntur.”Juga tidak bernilai beritaadalah “kehidupan pribadi kaum bangsawan seperti berburu, menjamu tamu, kunjungan ke teater….”.Sementara yang tabu diberitakan menurut Peucer adalah “apa yang merusak moral, misalnya kecabulan, kejahatan mengerikan, penyataan bersifat atheis.”
Walter Lippmann, seorang wartawan AS menggunakan istilah nilai berita dalam bukunya Public Opinion (1922) dinilai sebagai tonggak pandangan jurnalistik modern. Disebutkan bahwa suatu berita memiliki nilai layak ditayangkan jika di dalamnya memuat unsur kejelasan (clarity), unsur kejutan (surprise), adanya unsur kedekatan (proximity) geografis dan dampak (impact) serta komplik personalnya.

Kini kriteria di atas lebih disederhanakan lagi, yakni:
(a) unsur aktualitas (timeliness), yakni memandang berita mirip es krim yang gampang meleleh, semakin berlalunya waktu nilainya semakin berkurang;
(b) kedekatan (proximity), yaitu peristiwa mengandung kedekatan dengan pembaca, baik geografis maupun emosional. Peristiwa penindasan warga Bosnia atau Palestina akan mendapat tempat di khalayak pembaca Indonesia, karena memiliki kedekatan emosional menyatukan yakni aspek agama.
(c) keterkenalan (prominence), peristiwa menyangkut tokoh nasional atau selebriti selalu mengundang kepenasaran publik;
(d) dampak (consequence), peristiwa memiliki konsekuensi luas  terhadap masyarakat seperti rencana pengumuman kenaikan BBM, rencana pembatasan usia kendaraan bermotor, dan lain-lain.
Termasuk postingan  yang memiliki "nilai berita" yang tinggi akan selalu diburu publik.  Tak heran, admin Kompasiana pun meletakkan postingan  paling aktual, apalagi cukup orisinil belom dimuat di jejaring manapun di ruang HL. Sementara  berita yang biasa-biasa saja, apalagi basi tak akan dilirik pembaca dan medianya secara perlahan  akan ditinggalkan oleh pembaca setianya.


Selasa, 01 Oktober 2019

TPPN 1: TUJUAN PENULISAN BERITA


Tujuan utama menulis berita adalah melaporkan seluk-beluk peristiwa yang telah, sedang, atau akan terjadi. Melaporkan berarti menuliskan atau menyiarkan apa yang dilihat, didengar, atau dialami seseorang atau sekelompok orang. Berita ditulis atau disiarkan sebagai rekonstruksi dari apa yang terjadi.

Mengapa peristiwa perlu diberitakan?
1. Memenuhi tujuan politik keredaksian suatu media massa.
2. Memenuhi kebutuhan pembaca.

Tujuan media massa memberitakan peristiwa:
1. Mementingkan tercapainya tujuan ekonomis, yaitu tercapainya oplah penjualan/rating yang tinggi serta perolehan iklan yang tinggi.
2. Informasi kepada pembaca sengaja dipilih yang berdaya jual tinggi.
3. Apakah informasi itu berdampak positif atau negatif diserahkan kepada pembaca.
4. Agar informasi yang disampaikan bermanfaat bagi pembaca/pemirsa, yaitu meningkatkan harkat hidup pembaca/pemirsa.
5. Informasi itu diharapkan dapat membantu pembaca menyesuaikan diri di tengah perkembangan kehidupan, yaitu untuk memperkaya batin dan memperluas perspektif berpikir.
6. Informasi ditempatkan sebagai masukan bagi pembaca agar mampu mengantisipasi perubahan, menghindari hal yang merugikan, serta mampu bersikap dalam memilih secara tepat langkah yang akan diambil.
7. Ada anggapan informasi hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan ideologis.
8. Informasi disampaikan untuk memengaruhi dan membujuk pembaca/pemirsa agar berbuat serta bersikap sesuai dengan tujuan ideologis yang hendak dicapai.
9. Media massa yang menempatkan tujuan idelogis sebagai hal terpenting, oplah/rating yang tinggi bukan prioritas utama.

Dari sisi pembaca/pemirsa:
1. Alasan memberitakan suatu peristiwa adalah dalam sikap manusia yang selalu ingin memperbaiki dan meningkatkan harkat kehidupan.
2. Manusia selalu ingin mengetahui apa yang sebaiknya dia lakukan, serta bagaimana melakukannya.
3. Manusia selalu berhubungan dengan manusia lain untuk mendapatkan informasi.
4. Dari informasi yang diperoleh itulah seseorang berharap lebih mengetahui apa dan bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan harkat kehidupannya.
5. Informasi yang dapat diperoleh dari hubungan baik antarmanusia seperti itu sangat terbatas.
6. Media massa hadir mengatasi keterbatasan itu.

Kehendak pembaca/pemirsa terhadap berita:
1. Berita yang melaporkan adanya bahaya yang mengancam kehidupan, bahaya fisik; semacam tindak kekerasan, bahaya alam, penyakit, dan sebagainya.
2. Berita yang mengungkapkan ancaman atau tekanan terhadap kebebasan seseorang; semacam penahanan tidak melalui prosedur dan saluran hukum, penggusuran, ketidakadilan ekonomi, dan sebagainya.
3. Berita yang menambah pengetahuan pembaca/pemirsa untuk memperbaiki kedudukan ekonomi atau sosial; semacam berita mengenai perkembangan perdagangan, situasi lapangan kerja, petunjuk-petunjuk untuk menambah pendapatan, dan sebagainya.
4. Berita yang mengungkapkan perkembangan atau penghambat dalam peningkatan kehidupan; semacam kemerosotan kehidupan perkotaan (pergelandangan, perumahan sulit), kemajuan bidang kesehatan, dunia hiburan, mode, dan sebagainya.

Dari hal-hal di atas, dapat disimpulkan berita diharapkan bermanfaat bagi kehidupan. Kemanfaatan itu adalah agar pembaca/pemirsa dapat mengelak atau menghindari bahaya yang tidak diinginkan atau dapat membantu pembaca/pemirsa mencapai cita-cita atau keinginan dalam kehidupan sosial.

Ada berita yang tidak menjanjikan perbaikan hidup atau tak menjadi titik tolak untuk mengelak dari bahaya sebagaimana diuraikan di atas. Berita demikian jamaknya hanya bersifat menggugah perasaan karena sifat manusiawi. Hal demikian memang tak bermanfaat langsung bagi pembaca, tapi dapat menumbuhkan simpati terhadap kehidupan orang lain.

Adanya kepentingan yang melatarbelakangi penulisan/penyiaran berita membuat jurnalis/wartawan selalu memilih peristiwa yang diberitakan, tak semua peristiwa diberitakan. Peristiwa hanya pantas diberitakan bila mengandung nilai informatif bagi pembaca dan sesuai dengan tujuan media massa. Dalam konteks inilah profesi jurnalis/wartawan menempati posisi istimewa.

Di satu pihak, jurnalis/wartawan turut merekam peristiwa untuk menggambarkan rekonstruksi (tertulis/terekam/video) perkembangam kehidupan manusia yang disampaikan berdasarkan kriteria pemberitaan media massa yang memberitakannya.


Di pihak lain, peristiwa diberitakankarena jurnalis/wartawan sebenarnya menerima mandat dari pembaca/pemirsa untuk menyusun rekonstruksi (tertulis/terekam/video) peristiwa tersebut sehingga bermanfaat bagi pembaca. Mandat itu diberikan berdasarkan kepercayaan bahwa wartawan mampu, baik berdasarkan keahlian, intuisi, atau pengalaman untuk melakukan rekonstruksi tersebut.

Jurnalis/wartawan tetap memiliki kebebasan individual walau ada pembatasan dari media yang tercermin dalam politik keredaksian. Jika politik keredaksian menggariskan sejumlah ketentuan dalam memilih apa yang layak dilaporkan kepada pembaca/pemirsa, pada saat yang sama jurnalis/wartawan tetaplah mewakili pembaca yang telah memberi mandat untuk memilih apa yang dilaporkan.

Jurnalis/wartawan bebas menggunakan akal sehat dan mendengar bisikan hati nuraninya sehingga ia bisa menilai apakah informasi yang disampaikan kepada pembaca lebih bermanfaat bagi media massa tempatnya bekerja atau lebih menguntungkan pembaca. Secara etis, jiwa jurnalis/wartawan dihadapkan kepada pilihan demikian ini seyogianya jurnalis/wartawan berpihak kepada pembaca/pemirsa/audiens.

Jurnalisme Media massa diberi amanat untuk mengelola informasi tentang hal-hal mengenai rakyat dan menyiarkannya dalam bentuk berita kepada khalayak. Fungsi mencari, mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menyiarkan informasi itu lazim disebut jurnalistik atau jurnalisme.

Jurnalisme merupakan kegiatan untuk mewujudkan hak untuk tahu dan hak untuk mendapatkan informasi dari rakyat. Tidak ada kegiatan pengumpulan dan penyiaran informasi yang selengkap dan sekomprehensif kegiatan jurnalisme.

Pengertian jurnalisme secara umum adalah kegiatan mengumpulkan dan memproses fakta menjadi format informasi tertentu serta menyiarkannya kepada khalayak melalui media massa.

Yang disebut fakta bisa berupa peristiwa. Fenomena, situasi, kondisi, atau kecenderungan yang benar-benar ada dalam komunitas sosial. Memproses fakta menjadi format informasi adalah menstrukturkan fakta menjadi suatu bentuk wacana, baik yan bersifat audio, visual, maupun audio visual.

Di media cetak bentuk wacana itu biasanya berupa berita langsung (straight news) dan feature serta bentuk-bentuk artikel opini seperti tajuk rencana, karikatur, dan pojok. Jurnalisme biasanya dilakukan oleh suatu profesi yang disebut jurnalis atau wartawan.
Jurnalisme tampak sederhana, yakni hanya menulis dan menyiarkan informasi kepada khalayak. Dalam praktik, jurnalisme sebenarnya amat kompleks dan rumit.


Kegiatan jurnalisme bukan saja melibatkan suatu institusi yang sekarang berkembang pesat, yakni media massa (cetak, elektronika, Internet), tetapi yang lebih rumit adalah karena kegiatan ini bergerak dalam domain sistem sosial, yakni masyarakat.

Sumber:

Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa; Ashadi Siregar dkk, LP3Y dan Penerbit Kanisius; 1998.

Penulisan Jurnalistik, Konsep dan Teknik Penulisan Berita; Mursito BM; Studi Pemberdayaan Komunikasi; 1999.